Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Maret 2021

Berbagi Pengalaman : Saat Anak Didiagnosa Speech Delays, It Hurts!

10.32 2 Comments



Di awal Maret 2021 ini saya ingin sekali berbagi salah satu pengalaman yang cukup mengecewakan dan menyakitkan buat saya, yaitu ketika anak tercinta didiagnosa speech delayed.

Awalnya saya mengira perkembangan bahasa Navid, anak saya, sangat pesat, karena di usia sekitar 9-10 bulan mampu mengucapkan sekitar 10-12 kata. Kata-kata itu antara lain : bebeg, jajah, teteh, nen, moo, dlsb. Saya masih tenang-tenang saja saat Navid menginjak usia 1 tahun. Meski tidak ada penambahan kata yang berarti, namun ia tetap mampu mengucapkan beberapa kata yang sudah ia kuasai sebelumnya. Menjelang usia 1.5 tahun, saya merasa sedikit aneh karena Navid mulai berkurang mengatakan sesuatu. Rasa aneh itu kemudian berlanjut menjadi kekhawatiran ketika Navid menginjak usia 2 tahun. He became quite. There was no single word he ever said. Seluruh kata-kata yang dulu sempat ia ucapkan menghilang. Dia banyak diam. Bila diajak bicara pun ia tidak merespon dengan kata, melainkan dengan tindakan seperti menunjuk benda.

Syukur Alhamdulillah saya adalah seorang perempuan yang sangat sensitif (sehingga mudah tersinggung dan kepikiran) dan amat memperhatikan detail ketika merasa ada yang aneh. Kesensitifan saya ini terkadang memang berkembang menjadi paranoia. Dan akibat paranoia ini, saya bisa mengkonsultasikan rasa aneh mengenai perkembangan bahasa Navid ke dokter spesialis anak kami sejak Navid umur 1.5tahun. Saat itu, dokter meminta saya untuk terus mengamati hingga usia Navid mencapai 2 tahun. Maka, ketika Navid merayakan ulang tahun yang kedua dan dia hampir tidak bicara sama sekali, masalah ini kembali saya konsultasikan ke DSA. 

DSA kemudian memberikan rujukan ke DSA lain yang mendalami kasus seperti Navid, yaitu Prof. Herdiono. Alhamdulillah nya lagi, DSA kami sangat baik, dia dengan jelas memberitahukan bahwa selain tempat praktek sang profesor jauh dari Depok (tempat tinggal kami), kemungkinan besar profesor juga sudah mempunyai jadwal yang padat dengan pasien-pasien lain terdahulunya. Sehingga DSA kami pun memberikan beberapa pilihan dokter spesialis lain yang masih merupakan anak murid dari sang Profesor. Dan dari sekian nama, berkonsultasilah kami dengan dr. Lies Dewi N, Sp. A (K) di RS Permata Cibubur.

Hasil konsultasi dengan dr. Lies adalah Navid resmi dinyatakan Maturational Delayed Speech dan diberi rujukan terapi sensori integrasi dengan pengamatan triwulanan di salah satu tempat terapi di Cibubur. Sayangnya, setelah saya, suami, juga Navid datangi tempat itu, tempat terapi tersebut sedang tutup untuk beberapa bulan. Oya, saat itu sekitar bulan Juni 2020, virus corona dari negara api sudah menyerang Indonesia. terbayang kan seberapa risaunya saya yang mau tidak mau harus mondar-mandir ke dokter dan rumah sakit membawa anak usia 2 tahun agar dia mendapatkan haknya untuk berkembang dalam komunikasi sebagai mana anak-anak seusianya?

Oleh karena tempat terapi tersebut tutup, atas anjuran dr. Lies pula tempat rujukan diubah ke Child Development Center, Eka Hospital Cibubur. Bila mengingat ini, saya sungguh bersyukur Allah SWT membantu dan memudahkan kami dengan bertemu dokter-dokter, terapis, dan tempat terapi yang tepat. 

Meskipun ternyata belakangan kami ketahui kalau dr. Lies membuka praktek juga di Eka Hospital Cibubur, tetapi rujukan yang kami pegang berkopkan RS Permata Cibubur, dan saat itu dr. Lies sedang tidak ada jadwal, maka kami dialihkan ke dr. Roy. Sistem di sana mengharuskan anak diterapi dengan pengawasan dan terintegrasi dengan dokter yang terkait, sehingga kami pun manut saja, toh ini hal bagus.

Dari hasil konsultasi dan rujukan dokter Roy, Navid dapat langsung membuat jadwal terapi sensori integrasi di Child Development Center, EHC di sana. Navid diminta mengikuti terapi sensori integrasi selama 3x seminggu.

Awal terapi memang berat. Navid nangis, tidak mau dilepas dari dekapan saya, menjerit-jerit, hingga muntah karena terlalu lama menangis. Tetapi, hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, ketakutan Navid semakin berkurang dan hilang. Beda halnya, saat saya terapi-kan Navid di salah satu tempat terapi di kawasan Grand Depok City.

Karena ini sangat penting bagi para orang tua yang mungkin mempunyai anak dengan kasus serupa anak saya, maka akan saya ceritakan poin ini :
1.Saya sebagai orang tua mengakui bahwa saya melakukan kesalahan dengan sempat sembarang memilih tempat terapi tanpa mempertimbangkan lebih banyak hal selain ketergesaan kebutuhan komunikasi anak.

2.Saya juga sebagai orang tua mengakui bahwa saya melakukan kesalahan dengan sempat sembarang memilih tempat terapi tanpa berdiskusi lebih dulu dengan DSA. 

Singkatnya begini, karena jiwa paranoia saya sangat kuat, saya konsultasikan masalah Navid ke salah satu psikolog anak di salah satu tempat terapi di kawasan Grand Depok City lebih dulu tanpa menunggu usianya genap 2 tahun dan tanpa berdiskusi dengan DSA. Hasil konsultasi keluar dengan saran kuat untuk melakukan dua terapi yaitu terapi sensori dan terapi wicara sekaligus. Saya iya kan, karena saya ingin Navid segera tertangani. Namun yang terjadi adalah, hari ke hari Navid semakin takut bahkan seperti trauma.

Yang menyebalkan bagi saya saat itu adalah, terapis yang menangani Navid selalu berganti dan tidak terintegrasi. Hari ini dengan terapis A lalu mengatakan "..tapi problem solvingnya bagus loh." Kemudian lain hari dan hari berikutnya dengan lain-lain terapis juga mengatakan "...problem solving Navid bagus, Bu." WHAT?? Are you serious? This is a serious indication that they're less proffesionals. Kenapa mereka mengucapkan hal yang sma berulang-ulang, apkah mereka tidak saling ternotice kalau itu memang keunggulan Navid?? 

Hal lain yang mengganggu buat saya adalah, klaim mereka tidak terbukti pada Navid. Salah satu terapis sempat mengatakan bahwa Navid sensitif dengan tekstur sikat. Jika sikat itu digosokan maka dia menangis. Saya tertantang, saya beli itu sikat serupa, saya gosok-gosokan perlahan ke tangan Navid, awalnya Navid menarik tangannya namun selanjutnya dia biasa saja, tidak menangis, dan tidak datar, dia berekspresi, yang mana itu bagus, karena ekspresinya seperti geli tapi tidak ketakutan dan tidak menghindar. 

Akhirnya saya berkesimpulan, bahwa anak saya mengalami kesulitan untuk mengenal dan bisa lebih dekat dengan terapisnya karena selalu berganti terapis dan mereka selalu memakai masker juga face shield (yang mana harus karena kondisi pandemi, dan saya tidak mengeluhkan ini). 

Berganti-ganti terapis adalah BIG NO buat saya. Kalau kita harus berhadapan dengan anak usia kurang dari 2 tahun, maka yang pertama sekali harus dilakukan adalah membuat mereka merasa nyaman, aman, dan dekat dengan kita. Bagaimana itu terjadi jika terapis terus berganti meski jenis terapinya sama?

Dan belakangan saya ketahui bahwa setiap terapis memiliki semacam mahzab yang berbeda dalam menangani anak yang berkebutuhan khusus atau mengalami kasus khusus. Ada yang berpegang dengan cara keras, seperti gerakan-gerakan yang mau tidak mau anak diseret untuk melakukannya. Ada pula yang berpegang dengan cara menyenangkan seperti mengajak anak bermain. 

Ya Allah syukur Alhamdulillah, DSA kami memberi tahu hal ini, bahwa tidak semua tempat terapi itu bagus dan kemampuan berbicara sungguh berkejar-kejaran dengan usia. Usia terbaik untuk meningkatkan kemampuan berbicara adalah di usia 0-3 tahun. Jadi kalau kita menunda terapi dan atau memilih tempat terapi yang tidak tepat untuk menangani kasus terlambat bicara ini, sayang sekali, kita akan kehabisan waktu yang sangat prima bagi anak untuk lebih mudah menyerap ilmu bagi perkembangan bahasanya. Dokter pun kurang lebih sempat menjelaskan begini, "lalu apakah setelah anak usia 3 tahun, mereka tidak lagi bisa belajar berbicara? Setelah usia 3 tahun, anak masih bisa belajar berbicara namun akan sangat memudahkan bagi mereka jika kita menstimulasi di masa golden age 0-3 tahun itu, karena tumbuh kembang seluruh aspek tubuh dan psikologisnya pun sedang terjadi dengan gencar-gencarnya sehingga bisa saling terintegrasi." Ini semacam kalau kita belajar bahasa Inggris atau belajar mengaji, tentu akan lebih mudah dikuasai jika dilakukan sedini mungkin bukan??? Dari situ lah, saya dan suami mengeluarkan Navid dari tempat terapinya yang lama.

Kembali ke cerita semula. Menjelang bulan ketiga melakukan terapi dan sesekali konsultasi sesuai kebutuhan dan jadwalnya di CDC, EHC, Navid menunjukan perkembangan berarti. Dia mulai bicara! Navid mengucapkan satu per satu kata meski belum begitu sempurna dan belum membentuk kalimat. Kata- kata yang diucapkan Navid ntara lain seperti : atoh (jatoh), mam (makan), bobo, eong (kucing), ape (HP), ebok (cebok), popop (popok), dlsb. Hari demi hari pun kosa katanya semakin bertambah. Maka, di bulan ketiga itu, atas saran terapis dan dokter Roy, terapi sensori integrasi Navid yang semula 3xseminggu, berkurang menjadi 2xseminggu ditambah 1xseminggu terapi wicara.

Ternyata terapi wicara pun menantang, karena selain saya tidak bisa melongok dari luar untuk mengintip apa yang dilakukan Navid ketika terapi berlangsung, Navid diharuskan untuk terus duduk manis selama kurang lebih satu jam dan berkomunikasi dengan baik dengan terapisnya. Tentu saja, sama halnya dengan terapi sensori integrasi, di awal Navid kesulitan mengikuti. Namun karena saran terapi wicara ini benar-benar matang dengan mempertimbangkan pencapaian Navid di kelas terapi sensori integrasi, Navid masih mampu mengikuti terapi wicara dengan baik hingga beberapa menit di awal, dan menjelang menit-menit akhir baru lah ia menangis ingin pulang. Namun, saat sudah beberapa kali dijalani, Navid mampu menguasai diri dan bertahan di kelas terapi wicara tanpa menangis dan dengan bergembira. Dia juga akrab dengan terapis sensori dan terapis wicaranya. Hal ini sungguh melegakan buat saya, karena kalau anak nyaman sungguh saya merasa terbantu.

Tiga bulan berlalu, sesuai jadwal, kami harus kembali berkonsultasi dengan dr. Lies untuk mengetahui apakah terapi Navid tetap berlanjut atau tidak, dan jika berlanjut bagaimana proporsi jenis terapinya. Sayangnya, saat itu dr. Lies sedang cuti sakit untuk waktu yang cukup lama. Sedangkan kami sudah sangat risau harus bolak-balik rumah sakit di tengah pandemi. Saya dan suami pun berkonsultasi dengan dr. Roy, dan meminta ijin beliau untuk menyudahi terapi karena ingin pulang kampung sekaligus melihat bagaimana perkembangan bahasa dan kemampuan bicara Navid jika bertemu banyak saudara di kampungnya nanti. 

Dr. Roy memahami dan memaklumi keresahan kami sebagai orangtua. Memang dilematis jika harus membawa anak kecil terus-menerus ke rumah sakit meski itu untuk tujuan yang baik. Dr. Roy pun menginjinkan untuk menyudahi terapi Navid sementara waktu. Kami juga berpamitan dengan terapis Navid. Kami pulang kampung dengan banyak anjuran untuk tidak sering menonton TV dan sederet kegiatan agar kemampuan bicara Navid yang sudah terbentuk tidak mundur atau menghilang.

Singkat cerita, setelah beberpa bulan di kampung halaman, kemampuan bicara Navid berkembang pesat. Dia sudah mampu berbicara dengan satu kalimat utuh, bahkan sesekali kalimatnya tidak hanya terdiri dari 3-4 kata saja, melainkan sampai 6 hingga 8 kata. Alhamdulillah, kami sungguh bersyukur. Sekarang, kami sudah kembali ke Depok, dan Navid sudah sangat cerewet, bahkan sering saya bilang "bawel!" ketika dia mengoceh terus karena meminta hal yang sama namun tidak saya penuhi.

Meski, saya dan suami masih merasa perlu berkonsultasi dengan dr. Roy/dr. Lies dan meski kami juga masih merasa perlu untuk Navid mendapatkan terapi lanjutan, namun kami masih menahannya hingga kini. Tak lain tak bukan, tentu saja karena situasi pandemi yang belum juga membaik. Tetapi, kami sangat bersyukur, lega, dan senang, sudah berada di titik ini, melewati kesulitan itu bersama, dan berhasil mengatasinya. Alhamdulillahhirobilalaamiin. Saya berharap Allah akan memaafkan saya dan suami, yang tentu tanpa kami sengaja sudah sempat membuat kondisi yang tidak cukup mendukung tumbuh kembang berbahasa Navid.

Buat, orang tua di luar sana, yang sudah mampir ke blog saya, membaca tulisan ini dan merasa memiliki masalah yang sama, saya ingin bilang, "jangan patah semangat. Kesulitan Insya Allah terlewati dengan udaha dan doa." 

Bagi yang ingin berbagi pengalaman terkait keterlambatan juga sok silakan saja ya. Sangat senang jika saya bisa membantu. Satu hal saja yang sangat tidak saya anjurkan, yaitu mencoba menterapikan anak dengan cara menonton TV/Yutub/gadget apapun tanpa rujukan profesional.

Minggu, 01 November 2020

Memutuskan Kembali dan Bangkit Itu Tidak Mudah

01.12 0 Comments

 Helo hai... Log time no see..

Setelah sekian lama blog ini terbengkalai, akhirnya ada kesempatan di mana segala sesuatunya mendukung saya untuk kembali dan bangkit. Well, it's not an easy journey to be here standing tall at this point.

Setelah mengalami banyak drama kehidupan, yang mudah-mudahan bisa aku share di blog ini dalam lain kesempatan, saya sempat merasakan situasi (yang menurut saya) selalu tidak cocok dengan semangat menulis timbul tenggelam ini. Namun ternyata, kalau dipahami baik-baik, bukan situasinya yang salah tetapi ketangguhan diri saya.

Have you ever heard depression? Well, I've been there. Profesionally diagnosed. Jadi bukan ngarang, nebak-nebak atau kira-kira sendiri ya. Belum lagi ditambah tugas lain yang dulu saya pikir hanya sebatas kewajiban dan tanggung jawab, tetapi sekarang saya melihatnya sebagai anugrah, kesempatan baik, dan kebahagiaan, yaitu menjadi ibu.

Setelah menajadi seorang ibu, terutama ibu rumah tangga, saya sadari betul bahwa memiliki waktu yang sempurna untuk diri sendiri dan bekerja adalah mustahil. Kesadaran ini membuat saya yang dulu sering kesal hingga merasa tidak berdaya dan tidak punya masa depan. Psikolog saya pun pernah bilang, kalau saya ini karakternya perfectionist. Karakter perfectionist itu selalu pilih hitam atau putih, gak bisa dan gak mau berada dan memilih di tengah-tengah atau area abu-abu. Sehingga meskipun bisa diakal-akali dan berjalan dengan banyak kekurangan, saya tidak akan mengambil opsi itu.

Tetapi itu dulu. Saya sekarang ada dalam titik penerimaan (berusaha menerima). Saya kerap melakukan percakapan kebatiniahan dengan diri saya sendiri untuk membuat segala sesuatunya dapat berjalan bersamaan meski tidak sesempurna harapan.

Pernah gak dengar soal five stages of grief? Saya mengalami ini. The five stages of grief are

1. Denial/Penyangkalan

2. Anger

3. Bargaining

4. Depression

5. Acceptance

Finally, I'm at the final stages. Horay!!! 

Dan dari pengalaman itu saya mengerti kalau memutuskan kembali dan bangkit memang bukan perkara mudah. Mungkin bisa jadi sangat sulit bagi sebagian orang. Please always being nice with others even when you have to say no. We never know what they're struggling at.

Semoga tekad saya ini senantiasa diberkahi Allah SWT, hingga berharap dapat membuahkan beberapa karya yang akan jadi warisan dan rekam jejak untuk anak cucu di kemudian hari. So, here I am, ready for many projects ahead. Insya Allah.



Minggu, 03 Desember 2017

Hadiah Menjelang Akhir Tahun

20.30 0 Comments

Subhanallah sampai sekarang saya masih merasa takjub. Kebaikan Allah SWT terasa betul pada kehidupan saya. Doa-doa yg terpanjat meski sempat dg kesal, kadang bahkan bosan dan capek ternyata memang benar tak akan pernah sia-sia. Allah pasti mendengar. Dan dengan harapan penuh akan terwujud insya Allah, Allah pun mewujudkan.

Berita bahagia datang akhir Oktober lalu. Hadiah pertama, ponakan pertama lahir sehat, selamat, dan sempurna. Lalu, kami sekeluarga dikirimkan fotonya. Ganteng dan menggemaskan. Liat fotonya saja saya sudah sayang sama anak ini. Ditambah lagi, saya saat itu sudah lama sekali mendambakan buah hati bahkan sampai ingin sekali mengadopsi (sayangnya suami belum setuju) maka bertambahlah sayang saya sama ponakan satu itu.

Berselang 2 - 3 hari saya merasa enek saat makan siang kantor. Saya malas menduga-duga meski saya sadar sudah 6 hari terlambat menstruasi. Namun, ternyata hal ini cukup mengganggu pikiran saya. Karena lusanya saya berencana ikut outing kantor suami di Jogja. Akhirnya, dg sedikit nasihat teman, di hari ketujuh, pagi-pagi sekali begitu bagun tidur saya coba tespek. Saya tespek dengan menurunkan harapan, karena sudah bosan menangis ketika harapan itu belum terwujud.

Di luar dugaan, garis satu setengah yang nampak blur dan semula saya pikir hasil akhirnya akan negatif ternyata justru terlihat jelas garis dua nya alias positif. Seketika saya memanggil suami. Suami terbangun melompat karena dia pikir ada maling.

"Abi bangunnya sampe segitunya.. Bunda ngagetin ya? Hehe maaf ya"
" Ya iya lah Bunda ngejerit gitu gimana gak loncat. Abi pikir ada maling.." 
"Bunda tespek garis dua nih, positif"
Suami senyum senyum dan kami pun berpelukan.
 

 

Saat itu, saya masih merasa bingung. Seminggu belakangan saya sering makan ayam penyet pedas. Belum lagi sempat minum soda. Apakah akan baik-baik saja? Saya merasa lebih banyak cemas ketimbang senang. 

Saya pun mengurungkan diri pergi ke kantor. Kami memutuskan pergi ke dokter kandungan kebun dulu untuk memastikan kehamilan saya dan keadaan janin dalam perut saya. 

Alhamdulillahirabbilalamiin.. Saya benar hamil dan janin dalam keadaan baik di dalam rahim. Subhanallah rasanya tidak percaya tapi juga percaya. *Eh gimana? Bingung ya? 
Saya merasa tidak percaya bahwa akbirnya saya dapat kabar yang sudah 3 tahun lebih saya nanti ini. Hamil! Tapi saya juga percaya bahwa tak ada kuasa Allah yang tak mungkin. Subhanallah.. Kasih sayang Allah seketika menyentuh dan menyadarkan saya betapa selama ini Ia mendengar dan tak pernah sekalipun jauh dari hambaNya. Kami pun sungguh bersyukur kepadaNya.

*USG 5 weeks

Konsekuensi dari kabar bahagia ini adalah kami batal okut outing ke Jogja. Memang nampak sayang dilewatkan, tapi buat kami janin dalam kandungan saya lebih teramat sayang diabaikan. Betapa kami menginginkan anak ini. Maka akan lebih baik kalau saya menghindari lelah lebih dulu.

Sebenarnya, suami bisa saja tetap berangkat outing tanpa saya, tapi katanya, dia gak akan nyaman kalau saya tidak ikut outing dan meninggalkan saya sendirian sementara dia tau saya sedang mengandung anak kami yang pertama, yang sudah sangat dinanti-dinanti ini. Suami pun tidak ingin memaksakan saya ikut. Ia juga khawatir kalau saya kelelahan. Dan dari situ saya sadar, prioritas kami berdua sudah berubah. Prioritas kami adalah anak yang tengah saya kandung. Dan ini adalah hadiah terbaik dari Allah yang paling saya nantikan selama ini.

Subhanallah.. Alhamdulillah..

Rabu, 06 September 2017

Main ke Omah Sinau Tegal

06.08 5 Comments
Sudah lama saya kagum pada mereka yang begitu kuat tekad untuk mencurahkan apa yang mereka bisa dan mampu, dalam rangka memberi manfaat bagi orang lain. Beberapa diantara orang-orang tersebut adalah para pemerhati pendidikan yang membuktikan perhatiannya kepada masyarakat sekitar dengan hal nyata melalui gerakan membaca.

Dari instagram, saya jadi tahu Taman Baca Tiga Surau, kemudian saya ikuti akunnya. Siapa tahu suatu ketika saya pun dapat memberi apapun yang saya bisa, untuk orang lain. Kemudian dari situ lah, saya jadi tahu Rumah Baca Semesta Kata dan yang terakhir ini, Omah Sinau Tegal.

Kamis, 17 Agustus 2017

A Trip for Self Healing

06.44 0 Comments
Beberapa hari yang lalu saya dan suami mengajukan cuti kerja. Kami pergi ke Bandung dan jalan-jalan di sana. Perjalanan ini bukan tanpa maksud. Perjalanan ini sudah sangat saya inginkan karena tekanan pekerjaan yang belakangan ini sedang sangat bikin stres.

Kami pergi hari Minggu pagi sekitar pukul sembilan. Niatnya supaya jalannan lebih lenggang. Alhamdulillah memang lebih lenggang dan gak macet. Sekitar pukul dua belas lebih kami sampai di Oak Tree Premier Hotel Bandung. Syukur lah sudah bisa check in. 

Minggu, 30 Juli 2017

What We Choose And What We Let To Stay Are What We Becoming Next

22.56 2 Comments
Sebagai pegawai yang sejak awal proses rekruitment pun sudah diberi peringatan "Bersedia di tempatkan di seluruh Indonesia", maka persyaratan itu pun kemudian menjadi hal yang paling harus dipersiapkan. Jujur saja, saat saya masih lajang, saya sama sekali tak perduli mau ditempatkan dimana. Saya justru penasaran dan merasa berpetualang kalau sampai di tempatkan di Kalimantan, Sulawesi, mapun Papua.

Setelah dekat dengan suami (saat itu masih pacar) hal ini pula lah yang saya ungkapkan lebih dulu sebelum hubungan kami berjalan lebih serius. Alhamdulillah, saya dan suami sama-sama tak masalah. Saya pun sadar diri atas kodrat wanita yang memang lebih baik menurut dengan keputusan Imamnya. Syukurnya suami saya terbuka dan tak pernah memaksa, segala keputusan mengenai pekerjaan dan hal lainnya kita diskusikan dengan penuh pertimbangan, tanpa tekanan, dan yang pasti keputusan diambil dengan sadar juga legowo. Syukur saya juga semakin bertambah karena sampai dengan saat ini saya masih bisa bekerja dan tinggal bersama suami sementara banyak kawan di kantor yang harus hidup terpisah karena pekerjaan.

Saya dan suami merupakan salah satu yang percaya bahwa pilihan dimana kita tinggal akan sangat berpengaruh dengan kualitas hidup yang kita jalani. Dulu, dalam obrolan yang penuh mimpi, suami ingin sekali keluar Jakarta, karena bagi dia kota ini tak lagi cocok untuk dirinya. Saya pun merasa kan hal yang sama. Lantas kami sama-sama berkhayal kota mana yang paling nyaman bagi kami untuk kami tinggali. Yogyakarta dan Magelang merupakan dua kota yang masuk daftar kota ideal dan masuk dalam pertimbangan kami. 

Kenapa Yogya dan Magelang? Alasannya banyak dan memang sangat bergantung pada cara kita berpikir dan sudut pandang yang digunakan. Saya dan suami merasa kedua kota itu memenuhi beberapa kriteria yang kami cari. Budaya, kearifan lokal, kehidupan beragama, hiburan, kenyamanan, dan tingkat kesejahteraan.

Rabu, 19 Oktober 2016

How Can I Miss Netflix?!

02.54 0 Comments

Jadi ceritanya saya sempat kecewa sama Netflix karena kebanyakan film yang mereka sediakan bukan film baru dan hampir sebagian besar sudah pernah saya tonton. Ulasan mengenai ini bisa dicek di 1 Month Netflix Free Trial. Dalam postingan itu, saya menyatakan ingin berhenti berlangganan namun karena selalu kelupaan mengubah pengaturan berlangganan jadi keterusan deh. Eh ya..keterusan itu akhirnya berhenti juga sekitar tiga hari yang lalu. Tapi sekarang saya kangen Netflix-an dong... Nah loh.

Sebelum berhenti berlangganan, Netflix kasih update beberapa film baru yang saya lihat gak tayang di Indonesia such as A Girl Like Her. Film ini akan saya ulas kemudian dalam postingan berikutnya ya. Selain film, Netflix rupanya juga rajin mengupdate serial mereka, baik dengan memberikan serial terbaru atau menyediakan season terbaru dari serial yang telah mereka sediakan. Nah ini nih yang bikin kangen, karena selama masih langganan Netflix kemarin, tiap kali bosan saya bisa langsung buka laptop dan nonton film atau serial apapun yang sudah saya pilah-pilah sebelumnya dan saya kumpulkan dalam to watch list. Tapi sekarang gak bisa gitu lagi. :( Bingung juga kalau sedang bosan dan malas baca harus ngapain. 


*dan kemudian saya pun berpikir untuk berlangganan Netflix kembali. :D


Selasa, 09 Agustus 2016

TeBlogger Second Meetup : Writing Inspirational Sharing

23.19 4 Comments
Bulan Juli sudah berganti Agustus, saya lantas kepikiran mau bikin apa buat kopi darat kedua TeBlogger. Sebenarnya sih sudah ada beberapa teman yang saya kontak untuk meminta kesediaanya jadi narasumber di meetup nya TeBlogger yang kedua. Tapi setelah saya pikir-pikir, rasanya kok berat kalau mengundang narasumber dari Jakarta untuk event di Tegal. Uang transpot, penginapan, dan honor narasumber adalah 3 poin penting yang jadi pertimbangan. Mungkin kalau TeBlogger sudah semakin berkembang tiga poin itu sudah tidak jadi penghalang lagi.

Saya pun berpikir masa sih gak ada orang Tegal yang juga mumpuni buat jadi narasumber? pasti ada, cuma belum kenal aja kali ya...

Yap, dari situ lah saya langsung browsing. Cari orang tegal dan sekitarnya yang juga berdomisili di Tegal dan sekitarnya yang bisa dan bersedia berbagi ilmu dengan menjadi narasumber dengan bayaran yang gak seberapa. Dan hasil browsing saya menuju ke halaman http://www.zonasatu.co.id/2016/02/pegawai-dinkes-tegal-meraih-predikat.html ini.

Minggu, 10 Juli 2016

TeBlogger First Meet Up

02.51 3 Comments


Jadi ceritanya, saya lagi pengen ngumpulin mereka yang suka dan sudah mahir ngeblog. Tapi gak semua blogger loh ya. Khusus orang-orang Tegal dan sekitarnya aja. Dengan mengemban misi yang mulia. Saya pun nekat bikin komunitas.

Lupa awalnya dari mana, yang jelas dalam tiga bulan terakhir saya mengenal meetup.com Situs ini diperuntukan bagi mereka yang ingin berkenalan dan bertemu kawan-kawan baru dengan kesenangan tertentu yang sama.

Minggu, 05 Juni 2016

Storial Writing Workshop

17.00 0 Comments


Belakangan ini saya memang sedang giat cari event yang sekiranya saya banget. Sampai akhirnya diemailin storial.co tentang Writing Workshop yang bakal jadi event meet up  pertamanya storial.co
Apa sih storial.co? Storial.co adalah situs berbagi cerita baik puisi, cerpen, cerbung, maupun novel.

Melihat informasi tentang writing workshop ini saya langsung tertarik. Bukan hanya karena saya ingin bisa menulis tapi juga karena storial.co pernah bikin saya girang. Novel 'Imaji' yang belum sempat saya selesaikan dan baru saya tulis beberapa bab saja sempat masuk dalam pilihan editor tepat di hari ulang tahun saya. Ya walaupun hal ini akhirnya menimbulkan pertanyaan di benak saya. Apakah tulisan saya masuk dalam pilihan editor karena bedarsarkan database saya tengah berulang tahun ataukah memang tulisan saya segitu kerennya??? Untuk mempertahankan semangat saya menulis, saya memilih opsi kedua untuk saya yakini.

Senin, 28 Maret 2016

I've Been Stolen And I Realize Something!

00.34 0 Comments
Sebenarnya ini bukan yang pertama kali. Kalau diingat-ingat sudah beberapa kali saya kehilangan barang, dan selalu ponsel! Tapi kehilangan kali ini rasanya beda. Membuat saya menyadari beberapa hal.

Kebetulan baru sekitar dua atau tiga hari sebelumnya, saya beli pelindung layar, casing, dsb untuk mempercantik ponsel saya yang jarang lemot itu. Jadi ketika sadar ponsel saya sudah dicuri rasanya nelangsa sekali. 

Sore itu, sepulang dari kantor, saya menghubungi suami untuk makan malam di Mall Kalibata. Dan suami mengiyakan. Saya bilang, sembari menunggu saya berbelanja dulu di supermarket dalam mall tersebut. Suami pun mengOKEkan saja. Seolah dia sudah tau betul istrinya tidak bisa diam lama menunggu kalau sedang di dalam mall.

Saya berbelanja kebutuhan sehari-hari, terutama makanan. Saya dan suami suka sekali sosis sapi. Jadi saya cukup lama di area frozen food. Maklum, namanya ibu-ibu, mau ambil satu bungkus sosis saja, saya perlu menelusur dari ujung rak sebelah kanan sampai ujung rak sebelah kiri untuk memastikan sosis yang saya beli lebih hemat. Lebih hemat loh ya bukan lebih murah.

Senin, 11 Januari 2016

Pasukan Lampu Merah

00.52 0 Comments


Saya agak gimana gitu belakangan ini, terutama kalo lagi bonceng naik motor di jalanan Jakarta. Apalagi kalau jam-jam pulang kerja. Mengerikan!

Kadang saya merasa manusia itu seperti semut. Bedanya semut mengantri dan tidak berebut, sementara manusia sulit ditata dalam barisan yang rapi dan suka berebut. Tapi katanya, kalau tidak begitu di Jakarta justru akan kena getahnya sendiri.

Jadi gini loh, yang lagi bikin saya stres itu tentang berkendara di Jakarta. Seringkali dalam beberapa kesempatan ketika saya sedang membonceng tukang ojek, kawan atau bahkan suami, bulu kuduk saya menggetarkan lembut perasaan takut dan ngeri secara bersamaan ketika terhadang lampu merah.

Saya sebal kalau harus menanti lampu merah berubah hijau dimulai dari detik 90 atau 120. Bukan karena lamanya menunggu, tapi karena takut keburu banyak pengendara lain di belakang saya. Saya merasa warga Jakarta cukup garang sama yang namanya lampu merah. Semacam pasukan perang. Ketika warna hijau menyala seolah diberi tanda boleh pergi menyerang. 

Senin, 21 September 2015

Annyeonghaseyo, Je Ileum Pepona

08.48 0 Comments
     


     Ceritanya saya lagi pengen punya temen main sehabis capek pulang kerja. Berhubung Allah masih bilang tunggu buat punya anak, alhasil kepikiran lah buat pelihara kucing. Anak kucing lebih tepatnya. Sebelum niat itu terwujud, udah nebak sih pasti orang tua gak setuju. Kucing memang bisa membawa virus torso yang gak baik buat kesehatan terutama buat mereka yang pengen atau sedang hamil. Tapi, kepengenan saya udah sampe ubun-ubun. Sampe keinget pula, ternyata saya punya nazar. Nazarnya kurang lebih begini "ntar kalo udah gede dan punya duit yang cukup bisa ke dokter hewan, mau piara kucing ah". Nazar gak sengaja keucap karena saat itu saya pengen banget pelihara kucing tapi gak dikasih ijin sama orang tua. Kalo diingat-ingat, orang tua saya banyak gak kasih ijin keinginan saya di masa itu. Ya maklum sih, orang tua pengen pilihan-pihan yang aman buat anaknya, yang gak aneh-aneh, tapi jeleknya saya jadi gak beranian coba hal baru. Hasrat terpendam lah yang terus ngegemrungsungi. Akhirnya, nekat saya pelihara kucing. :D

Kamis, 10 September 2015

Lucu Bodohnya Zaman Dulu

08.31 0 Comments


Yap waktunya ngblog lagi..sebenernya ada beberapa hal serius yang pengen ditulis dimari *ceileh.. Tapi, karena yang nulis masih males nulis panjang. Dan tiba-tiba jadi pengen nulis kisah lucu bodoh zaman dulu, jadi...seadanya di otak dulu aja ya... :P

Jadi ceritanya, saya baru aja browsing usaha modal 1 juta apa ajah. Eh entah gimana ketemu yang namanya tees.co.id. Ngedesain dan ngejual produk yang didesain tanpa modal sedikitpun. Nah, oleh karena saya tipikal yang "masa sih?", enggak langsung percaya dong. Browsing lagi deh, cari testi orang-orang tentang situs itu. Testi kebanyakan blogpost di blog-blog pribadi. Ya ada yang testi bagus, ada juga testi yang jelek. Dan akhirnya, saya memilih untuk mengabaikan soal tees.co.id dulu.

Senin, 24 Agustus 2015

Self Esteem and The Evil Cycle in My Opinion

21.19 0 Comments
Setelah beberapa minggu bahkan beberapa bulan belakangan ada aja yang bikin nunda update blog, akhirnya datang lah waktu luang dan ide untuk dicurahkan. Kali ini pembicaraan serius yang ingin saya share. *emang yang kemarin gak serius?? *ya, serius juga sih

Entah kenapa hal ini jadi seperti mengerubuti pikiran saya. Rasanya sayang kalau tidak dituangkan. Siapa tau pendapat saya bisa dijadikan perenungan untuk mencari solusi yang bermanfaat bagi semua.

Selasa, 16 Juni 2015

Rapelan!

00.28 0 Comments
Baru sadar udah lama saya ga update blog. Beberapa kali sempet nemu ide buat diblogging tapi gak langsung diketik jadi lupadeh.. #penyakitmanusia

Sebenarnya banyak hal yang bisa ditumpahruahkan di postingan kali ini. Semacam dirapel gitu ceritanya. Kalau saja rapelan kenaikan gaji dan gaji 13 udah masuk rekening mungkin bisa saya ceritain juga, sayangnya terakhir ngecek e-banking saldo masih di angka yang sama, sama kritisnya! :)) Tapi alhamdulillah masih cukup buat makan dan transport yang makin naik aja biayanya. Oke, saya mulai gak fokus.

Kamis, 26 Maret 2015

Band Kesayangan #OneDirection, and The Latest Trending #AlwaysInMyHeartZaynMalik

21.06 0 Comments
Setahun yang lalu, begitu tau Zayn dkk mau dateng ke Indonesia, saya jingkrak-jingkrak senang. "Finally..." Niat hati pengen langsung beli tiket saat itu juga supaya gak kehabisan, apa daya ternyata gak sanggup karena harus ngurusin ini itu. Sampai akhirnya, sekitar dua bulan lalu, alhamdulillah bisa beli tiketnya juga. dengan pertimbangan keuangan, kondisi badan dan ketersedian tiket akhirnya saya pilih di kelas terbawah.


Gini ya guys, saya ini sudah 26 tahun dan status menikah. so, pas saya ngributin konsernya 1D pasti kena verbal bully dari sana sini, terutama orang-orang kantor. But, gak ngaruh buat saya. Tetep aja cinta 1D. Sampe-sampe saya cekokin suami lagu-lagu 1D juga, hehe. *maksudnyaseringputerinlagu1D

Sekitar dua bulan yang lalu, pas suami kasih uang untuk beli tiket konser 1D rasanya seneng banget, buru-buru deh beli. Dan langsung kebayang suasana konser yang luar biasa.

Senin, 16 Maret 2015

Energi Negatif Itu Bisa Jadi Postif Loh : Berjuang!

22.09 1 Comments


Hari ini saya ingin berbagi cerita mengenai sikap positif atas sikap negatif yang saya alami kemarin-kemarin.

Kantor saya sedang getol-getolnya menggaungkan Excellent Service, termasuk dengan perpustakaannya. Karena kebetulan yang in charge perpustakaan kantor adalah saya, saya dimintai lah pendapat untuk membuat perpustakaan lebih berperan besar lagi dan ga jadi sarang orang tidur.

Saya kasih tau ya soal orang tidur di perpus. Perpustakaan kami itu benar-benar nyaman sekali. Saya merasakan sendiri aura nyamannya dan memang kalau tidak ada aktifitas, rasa nyaman itu akan berubah menjadi mengantuk, dan berakhir dengan tidur dengan sendirinya. 

Di perpustakaan kantor saya, ada sofa hitam yang begitu menghipnotis, sudah banyak korbannya, termasuk saya. Asal nempel sofa hitam itu and do nothing, pasti tanpa sadar beberapa menit kemudian sudah ketiduran. Jadi saya sarankan membaca atau berdiskusi kalau sedang duduk di sofa hitam itu kalau tidak, siap-siap ngorok atau ngeces tanpa sadar. It's serious!

Jumat, 06 Februari 2015

Penjajak Comuter Line (Tips Berjibaku dalam CL untuk Pemula)

01.12 0 Comments
Berhubung rumah udah di Depok, belajar lah saya naik KRL. Hari pertama naik KRL, "Iyes dapet space berdiri enak nih", but I was wrong. 5 minutes later, disenggol kanan kiri. 10 minutes later, mulai benerin posisi kaki. Some minutes later, "kapan nyampe??" Arrived, "Alamaakkkk kegencet, gakk bisa keluaarr!!!"

Oke, nampaknya harus coba naik motor, biar tau perbandingannya. Worthed apa enggak. Setengah 6 dari rumah, setengah 8 sampe Pasar Minggu. Diturunin suami di lampu merah belokan ke arah UNNAS, saya milih jalan agak jauh dikit baru lanjut angkot, karena antrian panjang lampu merah di Taman Makam Pahlawan Kalibata berbuntut panjang. Kemudian, naik lah saya ke angkot yang paling dekat lampu merah TMP, tujuannya supaya bisa lebih cepat sampai kantor karena ga harus BT nungguin lampu merah jadi berubah warna ijo demi belok ke arah Dewi Sartika. Then.... I was wrong again. Si angkot udah belok nih, eh gak lama belok, ada space dikit, angkotnya ngetem. Sampe kantor hampir jam 8. Pulangnya lebih parah, kami sampai jam 9 malam karena macet dan mampir ke warung makan buat makan malam lebih dulu. Jadi bener kata orang, lebih baik umpel-umpelan daripada tua di jalan, apalagi kalo ujan, makin malem aja sampe rumah.

Akhirnya mau tidak mau, kami membiasakan diri naik KRL. Dan, baru tadi pagi saya sadar strategi naik krl. Mungkin ini berguna bagi para pemula seperti saya.

Senin, 05 Januari 2015

Tahun Baru, Rumah Baru. Mudah-Mudahan Segera Ada Anggota Keluarga Baru.

20.37 0 Comments
Saya dan suami tidak pernah merencanakan sebelumnya untuk memiliki rumah secepat ini. Yang kami pikirkan hanya lah sebatas, tahun depan urusan tempat tinggal sudah harus aman. Pernyataan itu di benak kami adalah pernyataan untuk menyiapkan finansial yang cukup untuk kembali membayar uang kontrak rumah/apartemen setahun mendatang. Tanpa disangka, alhamdulillah, Allah memberi kami rejeki dan keberanian untuk membeli rumah, meskipun dengan mencicil.

25 Desember 2013, suami dan keluarganya datang ke rumah saya untuk melamar. 25 Desember 2014, alhamdulillah, dengan sangat bersyukur tanpa bermaksud sombong, saya dan suami mulai mencicil barang untuk pindah rumah, ke rumah sendiri. Rejeki yang Allah beri ini sungguh membuat kami senang sekaligus kaget.