Tampilkan postingan dengan label Short Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Short Story. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 November 2015

Nelangsa

00.45 2 Comments


Lewat kaca jendela aku lihat matahari mulai terik. Aku penasaran. Ingin rasanya aku berjemur keluar dan main sepuasku. Biar saja badanku panas, toh aku putih. Toh aku bisa tidur di kamar belakang yang berAC. Sayangnya, pintu rumah masih terkunci. 

Setiap hari aku berlatih meloncat yang tinggi, supaya bisa kupenggang ganggang pintu rumah. Sekali lagi aku harus menahan kecewa, karena aku belum berhasil juga mencapainya. Sebenarnya semenjak Abi memindahkan meja makan ke dekat jendela, aku terbantu untuk meloncat lebih tinggi lagi. Namun, lagi lagi aku harus menyebut "tapi", ya, tapi aku belum berhasil juga.

Kadang aku bosan main di dalam rumah. Apalagi kalau sedang sendirian. Kalau Abi dan Bunda sedang bekerja, aku jadi ingin minggat. Sampai-sampai kutunggui pintu rumah beberapa jam sebelum Abi dan Bunda biasanya pulang. Kalau pintu terbuka dari luar sedikit saja, aku akan segera lari keluar. "Please, main sebentar saja di luar!"

Aku tahu mereka cuma kawatir. Mereka takut aku diculik atau lupa waktu sampai lupa jalan pulang. Tetapi, mereka tidak tahu aku sungguh bosan. Kecuali saat mereka bermain denganku. Meskipun godaan main keluar rumah dan tidak kembali, sesekali masih terlintas saat bermain dengan mereka.

Senin, 13 Oktober 2014

This Is Why We Call Them "Meong" Part III

01.01 0 Comments
Cerita lalu :
Mawar berhasil keluar dari desanya. Dia berusaha mendekati pusat kota daerah yang baru saja ia jamahi.


Meong

Letih berjalan cukup lama, Mawar duduk pada kursi kayu sebuah taman dengan pohon yang rindang, menikmati silir angin dan bunyi gemercik air di siang hari dari kolam ikan. 

Mawar menemukan bilah bambu yang tertancap pada sebuah batang pohon besar. Dari sana terlihat air mengalir begitu jernih dan menggiurkan, tanpa pikir panjang Mawar mendekatinya dan meneguknya dengan membuka mulut lebar-lebar di ujung bilah bambu yang mengucurkan air jatuh ke bawah.

Senin, 29 September 2014

This Is Why We Call Them "Meong" Part-II

02.33 0 Comments
Menyambung dongeng asal yang saya karang sesuka-suka saya, ini dia bagian keduanya.


Cerita yang lalu :


Mawar pergi merantau namun dia hanya berputar-putar. Jalan yang telah dilewati, dilaluinya lagi, seolah jalan itu tak berujung. Akhirnya, kembali lah Mawar ke rumahnya.

Sesampainya di rumah. Setelah makan dan beristirahat sejenak, dia menceritakan hal yang dialaminya kepada Meong. Dengan bahasa yang hanya dimengerti oleh Mawar dan Meong, mereka bercakap. Sampai akhirnya Mawar berinisiatif untuk menceritakan tentang hal yang dialaminya kepada tetangga-tetangganya, walaupun itu berarti dia harus berjalan 10 km ke tiap-tiap rumah tetangganya.


Senin, 22 September 2014

This Is Why We Call Them "Meong" -Part I-

02.13 0 Comments
Suatu malam tiba-tiba suami minta diceritakan sebuah dongeng pengantar tidur. Saya bingung mau cerita apa. Akhirnya mengarang lah saya sebuah cerita seperti ini.

"Meong"

Pada suatu hari hidup lah seorang gadis kecil bernama Mawar. Mawar hidup seorang diri karena Ibundanya meninggal dunia ketika melahirkannya ke dunia. Ayahnya, mati diburu macan hutan saat pergi berburu hewan untuk dimakan. Mawar tinggal seorang diri, namun dia tidak pernah merasa kesepian, karena sepanjang hidupnya dia ditemani seekor kucing lucu yang dia beri nama Meong.

Mawar sayang sekali pada kucingnya itu. Dia memperlakukan Meong seperti memperlakukan saudara kandungnya sendiri, penuh kasih dan perhatian yang tulus.



Kamis, 08 Mei 2014

MK

20.30 0 Comments


Sinar matahari tak begitu terasa menyengat. Awan gelap pun tak menutup birunya langit. Angin sesekali datang memberi kesejukan. Ada yang aneh saat pertama kali aku melihat sosokmu. Kau tampak paling bersinar diantara yang lain di ruangan itu. Berkali-kali aku mencuri pandang ke arahmu. Dan tiap kali itu terjadi, aku tersenyum sendiri. Daavi tengah mencari novelnya saat ia menemukan selembar kertas bertuliskan puisi nan indah itu. Kata-kata sederhana namun nampak jelas menyiratkan sebuah pesan cinta membuatnya penasaran. Kertas memo yang terlihat masih baru itu ia perhatikan benar-benar. MK. Sebuah inisial ia temukan di sana.