Nelangsa
Amalia Fw
00.45
2 Comments
Lewat kaca jendela aku lihat matahari mulai terik. Aku penasaran. Ingin rasanya aku berjemur keluar dan main sepuasku. Biar saja badanku panas, toh aku putih. Toh aku bisa tidur di kamar belakang yang berAC. Sayangnya, pintu rumah masih terkunci.
Setiap hari aku berlatih meloncat yang tinggi, supaya bisa kupenggang ganggang pintu rumah. Sekali lagi aku harus menahan kecewa, karena aku belum berhasil juga mencapainya. Sebenarnya semenjak Abi memindahkan meja makan ke dekat jendela, aku terbantu untuk meloncat lebih tinggi lagi. Namun, lagi lagi aku harus menyebut "tapi", ya, tapi aku belum berhasil juga.
Kadang aku bosan main di dalam rumah. Apalagi kalau sedang sendirian. Kalau Abi dan Bunda sedang bekerja, aku jadi ingin minggat. Sampai-sampai kutunggui pintu rumah beberapa jam sebelum Abi dan Bunda biasanya pulang. Kalau pintu terbuka dari luar sedikit saja, aku akan segera lari keluar. "Please, main sebentar saja di luar!"
Aku tahu mereka cuma kawatir. Mereka takut aku diculik atau lupa waktu sampai lupa jalan pulang. Tetapi, mereka tidak tahu aku sungguh bosan. Kecuali saat mereka bermain denganku. Meskipun godaan main keluar rumah dan tidak kembali, sesekali masih terlintas saat bermain dengan mereka.


