Rabu, 03 Maret 2021

Berbagi Pengalaman : Saat Anak Didiagnosa Speech Delays, It Hurts!

10.32 0 Comments



Di awal Maret 2021 ini saya ingin sekali berbagi salah satu pengalaman yang cukup mengecewakan dan menyakitkan buat saya, yaitu ketika anak tercinta didiagnosa speech delayed.

Awalnya saya mengira perkembangan bahasa Navid, anak saya, sangat pesat, karena di usia sekitar 9-10 bulan mampu mengucapkan sekitar 10-12 kata. Kata-kata itu antara lain : bebeg, jajah, teteh, nen, moo, dlsb. Saya masih tenang-tenang saja saat Navid menginjak usia 1 tahun. Meski tidak ada penambahan kata yang berarti, namun ia tetap mampu mengucapkan beberapa kata yang sudah ia kuasai sebelumnya. Menjelang usia 1.5 tahun, saya merasa sedikit aneh karena Navid mulai berkurang mengatakan sesuatu. Rasa aneh itu kemudian berlanjut menjadi kekhawatiran ketika Navid menginjak usia 2 tahun. He became quite. There was no single word he ever said. Seluruh kata-kata yang dulu sempat ia ucapkan menghilang. Dia banyak diam. Bila diajak bicara pun ia tidak merespon dengan kata, melainkan dengan tindakan seperti menunjuk benda.

Syukur Alhamdulillah saya adalah seorang perempuan yang sangat sensitif (sehingga mudah tersinggung dan kepikiran) dan amat memperhatikan detail ketika merasa ada yang aneh. Kesensitifan saya ini terkadang memang berkembang menjadi paranoia. Dan akibat paranoia ini, saya bisa mengkonsultasikan rasa aneh mengenai perkembangan bahasa Navid ke dokter spesialis anak kami sejak Navid umur 1.5tahun. Saat itu, dokter meminta saya untuk terus mengamati hingga usia Navid mencapai 2 tahun. Maka, ketika Navid merayakan ulang tahun yang kedua dan dia hampir tidak bicara sama sekali, masalah ini kembali saya konsultasikan ke DSA. 

DSA kemudian memberikan rujukan ke DSA lain yang mendalami kasus seperti Navid, yaitu Prof. Herdiono. Alhamdulillah nya lagi, DSA kami sangat baik, dia dengan jelas memberitahukan bahwa selain tempat praktek sang profesor jauh dari Depok (tempat tinggal kami), kemungkinan besar profesor juga sudah mempunyai jadwal yang padat dengan pasien-pasien lain terdahulunya. Sehingga DSA kami pun memberikan beberapa pilihan dokter spesialis lain yang masih merupakan anak murid dari sang Profesor. Dan dari sekian nama, berkonsultasilah kami dengan dr. Lies Dewi N, Sp. A (K) di RS Permata Cibubur.

Hasil konsultasi dengan dr. Lies adalah Navid resmi dinyatakan Maturational Delayed Speech dan diberi rujukan terapi sensori integrasi dengan pengamatan triwulanan di salah satu tempat terapi di Cibubur. Sayangnya, setelah saya, suami, juga Navid datangi tempat itu, tempat terapi tersebut sedang tutup untuk beberapa bulan. Oya, saat itu sekitar bulan Juni 2020, virus corona dari negara api sudah menyerang Indonesia. terbayang kan seberapa risaunya saya yang mau tidak mau harus mondar-mandir ke dokter dan rumah sakit membawa anak usia 2 tahun agar dia mendapatkan haknya untuk berkembang dalam komunikasi sebagai mana anak-anak seusianya?

Oleh karena tempat terapi tersebut tutup, atas anjuran dr. Lies pula tempat rujukan diubah ke Child Development Center, Eka Hospital Cibubur. Bila mengingat ini, saya sungguh bersyukur Allah SWT membantu dan memudahkan kami dengan bertemu dokter-dokter, terapis, dan tempat terapi yang tepat. 

Meskipun ternyata belakangan kami ketahui kalau dr. Lies membuka praktek juga di Eka Hospital Cibubur, tetapi rujukan yang kami pegang berkopkan RS Permata Cibubur, dan saat itu dr. Lies sedang tidak ada jadwal, maka kami dialihkan ke dr. Roy. Sistem di sana mengharuskan anak diterapi dengan pengawasan dan terintegrasi dengan dokter yang terkait, sehingga kami pun manut saja, toh ini hal bagus.

Dari hasil konsultasi dan rujukan dokter Roy, Navid dapat langsung membuat jadwal terapi sensori integrasi di Child Development Center, EHC di sana. Navid diminta mengikuti terapi sensori integrasi selama 3x seminggu.

Awal terapi memang berat. Navid nangis, tidak mau dilepas dari dekapan saya, menjerit-jerit, hingga muntah karena terlalu lama menangis. Tetapi, hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, ketakutan Navid semakin berkurang dan hilang. Beda halnya, saat saya terapi-kan Navid di salah satu tempat terapi di kawasan Grand Depok City.

Karena ini sangat penting bagi para orang tua yang mungkin mempunyai anak dengan kasus serupa anak saya, maka akan saya ceritakan poin ini :
1.Saya sebagai orang tua mengakui bahwa saya melakukan kesalahan dengan sempat sembarang memilih tempat terapi tanpa mempertimbangkan lebih banyak hal selain ketergesaan kebutuhan komunikasi anak.

2.Saya juga sebagai orang tua mengakui bahwa saya melakukan kesalahan dengan sempat sembarang memilih tempat terapi tanpa berdiskusi lebih dulu dengan DSA. 

Singkatnya begini, karena jiwa paranoia saya sangat kuat, saya konsultasikan masalah Navid ke salah satu psikolog anak di salah satu tempat terapi di kawasan Grand Depok City lebih dulu tanpa menunggu usianya genap 2 tahun dan tanpa berdiskusi dengan DSA. Hasil konsultasi keluar dengan saran kuat untuk melakukan dua terapi yaitu terapi sensori dan terapi wicara sekaligus. Saya iya kan, karena saya ingin Navid segera tertangani. Namun yang terjadi adalah, hari ke hari Navid semakin takut bahkan seperti trauma.

Yang menyebalkan bagi saya saat itu adalah, terapis yang menangani Navid selalu berganti dan tidak terintegrasi. Hari ini dengan terapis A lalu mengatakan "..tapi problem solvingnya bagus loh." Kemudian lain hari dan hari berikutnya dengan lain-lain terapis juga mengatakan "...problem solving Navid bagus, Bu." WHAT?? Are you serious? This is a serious indication that they're less proffesionals. Kenapa mereka mengucapkan hal yang sma berulang-ulang, apkah mereka tidak saling ternotice kalau itu memang keunggulan Navid?? 

Hal lain yang mengganggu buat saya adalah, klaim mereka tidak terbukti pada Navid. Salah satu terapis sempat mengatakan bahwa Navid sensitif dengan tekstur sikat. Jika sikat itu digosokan maka dia menangis. Saya tertantang, saya beli itu sikat serupa, saya gosok-gosokan perlahan ke tangan Navid, awalnya Navid menarik tangannya namun selanjutnya dia biasa saja, tidak menangis, dan tidak datar, dia berekspresi, yang mana itu bagus, karena ekspresinya seperti geli tapi tidak ketakutan dan tidak menghindar. 

Akhirnya saya berkesimpulan, bahwa anak saya mengalami kesulitan untuk mengenal dan bisa lebih dekat dengan terapisnya karena selalu berganti terapis dan mereka selalu memakai masker juga face shield (yang mana harus karena kondisi pandemi, dan saya tidak mengeluhkan ini). 

Berganti-ganti terapis adalah BIG NO buat saya. Kalau kita harus berhadapan dengan anak usia kurang dari 2 tahun, maka yang pertama sekali harus dilakukan adalah membuat mereka merasa nyaman, aman, dan dekat dengan kita. Bagaimana itu terjadi jika terapis terus berganti meski jenis terapinya sama?

Dan belakangan saya ketahui bahwa setiap terapis memiliki semacam mahzab yang berbeda dalam menangani anak yang berkebutuhan khusus atau mengalami kasus khusus. Ada yang berpegang dengan cara keras, seperti gerakan-gerakan yang mau tidak mau anak diseret untuk melakukannya. Ada pula yang berpegang dengan cara menyenangkan seperti mengajak anak bermain. 

Ya Allah syukur Alhamdulillah, DSA kami memberi tahu hal ini, bahwa tidak semua tempat terapi itu bagus dan kemampuan berbicara sungguh berkejar-kejaran dengan usia. Usia terbaik untuk meningkatkan kemampuan berbicara adalah di usia 0-3 tahun. Jadi kalau kita menunda terapi dan atau memilih tempat terapi yang tidak tepat untuk menangani kasus terlambat bicara ini, sayang sekali, kita akan kehabisan waktu yang sangat prima bagi anak untuk lebih mudah menyerap ilmu bagi perkembangan bahasanya. Dokter pun kurang lebih sempat menjelaskan begini, "lalu apakah setelah anak usia 3 tahun, mereka tidak lagi bisa belajar berbicara? Setelah usia 3 tahun, anak masih bisa belajar berbicara namun akan sangat memudahkan bagi mereka jika kita menstimulasi di masa golden age 0-3 tahun itu, karena tumbuh kembang seluruh aspek tubuh dan psikologisnya pun sedang terjadi dengan gencar-gencarnya sehingga bisa saling terintegrasi." Ini semacam kalau kita belajar bahasa Inggris atau belajar mengaji, tentu akan lebih mudah dikuasai jika dilakukan sedini mungkin bukan??? Dari situ lah, saya dan suami mengeluarkan Navid dari tempat terapinya yang lama.

Kembali ke cerita semula. Menjelang bulan ketiga melakukan terapi dan sesekali konsultasi sesuai kebutuhan dan jadwalnya di CDC, EHC, Navid menunjukan perkembangan berarti. Dia mulai bicara! Navid mengucapkan satu per satu kata meski belum begitu sempurna dan belum membentuk kalimat. Kata- kata yang diucapkan Navid ntara lain seperti : atoh (jatoh), mam (makan), bobo, eong (kucing), ape (HP), ebok (cebok), popop (popok), dlsb. Hari demi hari pun kosa katanya semakin bertambah. Maka, di bulan ketiga itu, atas saran terapis dan dokter Roy, terapi sensori integrasi Navid yang semula 3xseminggu, berkurang menjadi 2xseminggu ditambah 1xseminggu terapi wicara.

Ternyata terapi wicara pun menantang, karena selain saya tidak bisa melongok dari luar untuk mengintip apa yang dilakukan Navid ketika terapi berlangsung, Navid diharuskan untuk terus duduk manis selama kurang lebih satu jam dan berkomunikasi dengan baik dengan terapisnya. Tentu saja, sama halnya dengan terapi sensori integrasi, di awal Navid kesulitan mengikuti. Namun karena saran terapi wicara ini benar-benar matang dengan mempertimbangkan pencapaian Navid di kelas terapi sensori integrasi, Navid masih mampu mengikuti terapi wicara dengan baik hingga beberapa menit di awal, dan menjelang menit-menit akhir baru lah ia menangis ingin pulang. Namun, saat sudah beberapa kali dijalani, Navid mampu menguasai diri dan bertahan di kelas terapi wicara tanpa menangis dan dengan bergembira. Dia juga akrab dengan terapis sensori dan terapis wicaranya. Hal ini sungguh melegakan buat saya, karena kalau anak nyaman sungguh saya merasa terbantu.

Tiga bulan berlalu, sesuai jadwal, kami harus kembali berkonsultasi dengan dr. Lies untuk mengetahui apakah terapi Navid tetap berlanjut atau tidak, dan jika berlanjut bagaimana proporsi jenis terapinya. Sayangnya, saat itu dr. Lies sedang cuti sakit untuk waktu yang cukup lama. Sedangkan kami sudah sangat risau harus bolak-balik rumah sakit di tengah pandemi. Saya dan suami pun berkonsultasi dengan dr. Roy, dan meminta ijin beliau untuk menyudahi terapi karena ingin pulang kampung sekaligus melihat bagaimana perkembangan bahasa dan kemampuan bicara Navid jika bertemu banyak saudara di kampungnya nanti. 

Dr. Roy memahami dan memaklumi keresahan kami sebagai orangtua. Memang dilematis jika harus membawa anak kecil terus-menerus ke rumah sakit meski itu untuk tujuan yang baik. Dr. Roy pun menginjinkan untuk menyudahi terapi Navid sementara waktu. Kami juga berpamitan dengan terapis Navid. Kami pulang kampung dengan banyak anjuran untuk tidak sering menonton TV dan sederet kegiatan agar kemampuan bicara Navid yang sudah terbentuk tidak mundur atau menghilang.

Singkat cerita, setelah beberpa bulan di kampung halaman, kemampuan bicara Navid berkembang pesat. Dia sudah mampu berbicara dengan satu kalimat utuh, bahkan sesekali kalimatnya tidak hanya terdiri dari 3-4 kata saja, melainkan sampai 6 hingga 8 kata. Alhamdulillah, kami sungguh bersyukur. Sekarang, kami sudah kembali ke Depok, dan Navid sudah sangat cerewet, bahkan sering saya bilang "bawel!" ketika dia mengoceh terus karena meminta hal yang sama namun tidak saya penuhi.

Meski, saya dan suami masih merasa perlu berkonsultasi dengan dr. Roy/dr. Lies dan meski kami juga masih merasa perlu untuk Navid mendapatkan terapi lanjutan, namun kami masih menahannya hingga kini. Tak lain tak bukan, tentu saja karena situasi pandemi yang belum juga membaik. Tetapi, kami sangat bersyukur, lega, dan senang, sudah berada di titik ini, melewati kesulitan itu bersama, dan berhasil mengatasinya. Alhamdulillahhirobilalaamiin. Saya berharap Allah akan memaafkan saya dan suami, yang tentu tanpa kami sengaja sudah sempat membuat kondisi yang tidak cukup mendukung tumbuh kembang berbahasa Navid.

Buat, orang tua di luar sana, yang sudah mampir ke blog saya, membaca tulisan ini dan merasa memiliki masalah yang sama, saya ingin bilang, "jangan patah semangat. Kesulitan Insya Allah terlewati dengan udaha dan doa." 

Bagi yang ingin berbagi pengalaman terkait keterlambatan juga sok silakan saja ya. Sangat senang jika saya bisa membantu. Satu hal saja yang sangat tidak saya anjurkan, yaitu mencoba menterapikan anak dengan cara menonton TV/Yutub/gadget apapun tanpa rujukan profesional.

Selasa, 05 Januari 2021

Let's Read : Menanamkan Hal Baik Dengan Membaca

09.03 2 Comments

Jadi ceritanya ada hal yang baru-baru ini saya sadari. Anak saya kalau diajak ke toko mainan, dia selalu mudah kepincut sama boneka. Kekhawatiran pun sempat terlintas di benak saya. Namun kemudian, saya menyadari bahwa yang membuat jagoan kecil saya selalu tertarik dengan boneka-boneka di toko mainan adalah karakternya, bukan mainannya. 


Sama seperti hal nya ketika dia meminta saya menggambar atau bertanya tentang banyak hal. Kalau saya menggambar kodok, maka dia akan menyebutnya kodok Joke. Ketika saya membicarakan kucing, dia menyebutnya kucing Poki. Pun ketika dia ingin sarapan dan saya menanyakan apa yang ingin dia makan, dia jawab “Atid sama semut mau makan roti.”


Eh kok makannya sama semut? Begitu kira-kira keheranan yang akan terdengar kalau yang mendengar kalimat ini adalah Tante, Om, atau Eyang-Eyang nya anak. Tetapi, tidak dengan saya. Saya mengerti maksudnya.


Sekitar 3-4 bulan belakangan ini, dengan maksud menghindarkan penggunaan gawai yang belum semestinya, saya selalu pakai tameng aplikasi hebat satu ini. Jadi, kalau sampai anak ingin sekali pegang atau main HP, saya selalu menawarinya membuka aplikasi ini lebih dulu. Aplikasi Let’s Read Indonesia.



Aplikasi ini berisi banyak buku bacaan anak dengan berbagai tingkat kesulitan membaca. Tidak ada biaya sedikit pun yang dikenakan jika ingin membaca semua buku yang ada di sini. Ceritanya beragam, gambarnya juga menarik. Ketika pertama kali membuka aplikasi Let’s Read Indonesia ini, seperti sedang berjalan di galeri seni. Gambar-gambar berjajar memikat anak untuk menerka-nerka buku cerita mana yang paling menyenangkan untuk ia baca.



Saya sepakat bahwa mengenalkan buku kepada anak dimulai dari sedini mungkin. Jadi, usaha yang kerap kali saya lakukan adalah menyesuaikan tidak hanya bahan bacaannya, tetapi juga pesan terkandung, pengunaan kata-kata, gambar, dan pembentukan kalimat-kalimat yang cocok dengan tumbuh kembang buah hati.


Kok ribet amat sih? Sekarang gini aja deh, kalau kita sedang memberi nasihat ke anak, apakah semua nasihat itu lantas dipenuhi oleh anak? Apa semua nasihat itu dimengerti oleh anak? Saya percaya kalimat ‘one at a time’. Maksudnya, mana sekiranya pesan atau nasihat sederhana yang bisa dimengerti dengan mudah oleh anak, maka itulah yang ditanamkan lebih dulu. Satu per satu, terus menerus, sesuai perkembangan usia, tumbuh kembang, dan kemampuan bahasa anak.


Senangnya, di aplikasi Let’s Read Indonesia ini, saya sebagai orangtua tidak akan dihadapkan pada kesulitan itu. Selain disediakan keterangan label genre, tingkat kesulitan membaca, dan ringkasan singkat cerita, seluruh buku cerita pada aplikasi ini adalah buku cerita bergambar. 




Ya, teruusss?


Saya percaya, gambar pada buku bacaan anak memegang peran penting. Peran tersebut tidak hanya dalam menggugah minat baca tetapi juga memahami cerita dan pesan lebih dalam yang terkandung di dalamnya. Hal ini tentu akan membantu saya menanamkan hal-hal baik dengan lebih mudah berdasar pada cerita-cerita yang disuguhkan.


Berdasarkan pengalaman pribadi dan sedikit teori tentang pentingnya gambar dalam buku bacaan anak, kira-kira begini rangkuman yang bisa saya suguhkan. Gambar dalam buku bacaan anak memiliki setidaknya lima peran, yaitu :

1.  menjadi awal yang mendorong minat baca anak

Warna yang digunakan pada ilustrasi dalam buku bergambar menarik perhatian anak untuk lebih dalam menyelami cerita. Ilustrasi yang baik biasanya menagandung detail-detail lain seperti ekpresi wajah, bentuk, pakaian, dan lain sebagainya yang mampu memikat anak untuk bersedia mengisi rasa ingin tahunya.

2.  memudahkan anak memahami cerita

Dalam membaca, hal utama bagi anak adalah memecahkan makna kata dan cerita. Buku dengan gambar akan memudahkan mereka memahami dan mengidentifikasi benda, karakter, situasi, dan masalah yang mereka temui dalam cerita.

3.  membantu meningkatkan kemampuan kognitif

Buku bergambar mengandung ilustrasi yang dapat menjadi alat yang baik untuk mengembangkan keterampilan analitis dan interpretatif anak. Hal ini akan melibatkan kemampuan otak untuk berpikir, mengingat, memecahkan masalah dan mengambil keputusan.

4.  mengasah kreatifitas dan kemampuan berempati

Buku bergambar yang baik juga memuat ilustrasi dan teks yang bekerja sama menciptakan makna. Sehingga cerita yang mengandalkan gambar dalam melengkapi narasi, akan mendorong keterlibatan aktif anak untuk berkontribusi pada gambaran visual imajinatif yang dapat terhubung dengan kemampuan merasakan situasi cerita.

5.  melatih anak untuk berani mengemukakan ide

Waktu yang dihabiskan anak untuk memusatkan perhatian pada gambar dapat digunakan sebagai alat untuk membuat mereka mampu membayangkan dan menghidupkan kembali cerita dalam benak mereka. Hal itu mendorong semangat anak untuk menceritakan ide atas interpretasi mereka.


Saya sendiri kaget sekaligus kagum ketika anak sering sekali membahas bunga matahari karena dia baru saya bacakan buku Kebun Di Atap yang ada pada aplikasi Let’s Read Indonesia. Bahkan, dia mampu menjelaskan seperti apa rupa bunga matahari. Anak saya bilang, bunga matahari warnanya kuning, daunnya hijau, dan ada mata di tengahnya (yang terakhir ini sedikit bercampur dengan imajiasi anak ya). Tapi, bukan kah ini nampak sederhana? Percaya deh, jika anak tidak mampu memahami bacaannya, hal sederhana ini tidak akan nyangkut di kepala anak.



Pada akhirnya, yang ingin saya sampaikan adalah melalui Let’s Read Indonesia, anak saya mampu memahami banyak hal menarik. Ia pun mampu menangkap pesan penulis dengan baik. Setiap karakter tertancap dengan jelas. Anak memiliki penggambaran hewan-hewan, bunga, dan karakter tokoh dengan bagus dan mudah untuk ia jelaskan kembali kepada orang lain.


Jadi, buat ibu-ibu yang ingin mengenalkan literasi pada anak sedini mungkin dan, atau, ingin anaknya lebih sering baca, tetapi terlalu berat mengeluarkan uang untuk membeli buku (apalagi di masa pandemi seperti ini), yuk mari unduh aplikasinya dan bacakan lah untuk anak-anak tercinta. Jangan lupa berbagi. Hal baik dan gratis seperti ini, selain belum tentu diketahui yang lain, juga bisa jadi sangat bermanfaat bagi yang membutuhkan.

Minggu, 01 November 2020

Memutuskan Kembali dan Bangkit Itu Tidak Mudah

01.12 0 Comments

 Helo hai... Log time no see..

Setelah sekian lama blog ini terbengkalai, akhirnya ada kesempatan di mana segala sesuatunya mendukung saya untuk kembali dan bangkit. Well, it's not an easy journey to be here standing tall at this point.

Setelah mengalami banyak drama kehidupan, yang mudah-mudahan bisa aku share di blog ini dalam lain kesempatan, saya sempat merasakan situasi (yang menurut saya) selalu tidak cocok dengan semangat menulis timbul tenggelam ini. Namun ternyata, kalau dipahami baik-baik, bukan situasinya yang salah tetapi ketangguhan diri saya.

Have you ever heard depression? Well, I've been there. Profesionally diagnosed. Jadi bukan ngarang, nebak-nebak atau kira-kira sendiri ya. Belum lagi ditambah tugas lain yang dulu saya pikir hanya sebatas kewajiban dan tanggung jawab, tetapi sekarang saya melihatnya sebagai anugrah, kesempatan baik, dan kebahagiaan, yaitu menjadi ibu.

Setelah menajadi seorang ibu, terutama ibu rumah tangga, saya sadari betul bahwa memiliki waktu yang sempurna untuk diri sendiri dan bekerja adalah mustahil. Kesadaran ini membuat saya yang dulu sering kesal hingga merasa tidak berdaya dan tidak punya masa depan. Psikolog saya pun pernah bilang, kalau saya ini karakternya perfectionist. Karakter perfectionist itu selalu pilih hitam atau putih, gak bisa dan gak mau berada dan memilih di tengah-tengah atau area abu-abu. Sehingga meskipun bisa diakal-akali dan berjalan dengan banyak kekurangan, saya tidak akan mengambil opsi itu.

Tetapi itu dulu. Saya sekarang ada dalam titik penerimaan (berusaha menerima). Saya kerap melakukan percakapan kebatiniahan dengan diri saya sendiri untuk membuat segala sesuatunya dapat berjalan bersamaan meski tidak sesempurna harapan.

Pernah gak dengar soal five stages of grief? Saya mengalami ini. The five stages of grief are

1. Denial/Penyangkalan

2. Anger

3. Bargaining

4. Depression

5. Acceptance

Finally, I'm at the final stages. Horay!!! 

Dan dari pengalaman itu saya mengerti kalau memutuskan kembali dan bangkit memang bukan perkara mudah. Mungkin bisa jadi sangat sulit bagi sebagian orang. Please always being nice with others even when you have to say no. We never know what they're struggling at.

Semoga tekad saya ini senantiasa diberkahi Allah SWT, hingga berharap dapat membuahkan beberapa karya yang akan jadi warisan dan rekam jejak untuk anak cucu di kemudian hari. So, here I am, ready for many projects ahead. Insya Allah.



Minggu, 03 Desember 2017

Hadiah Menjelang Akhir Tahun

20.30 0 Comments

Subhanallah sampai sekarang saya masih merasa takjub. Kebaikan Allah SWT terasa betul pada kehidupan saya. Doa-doa yg terpanjat meski sempat dg kesal, kadang bahkan bosan dan capek ternyata memang benar tak akan pernah sia-sia. Allah pasti mendengar. Dan dengan harapan penuh akan terwujud insya Allah, Allah pun mewujudkan.

Berita bahagia datang akhir Oktober lalu. Hadiah pertama, ponakan pertama lahir sehat, selamat, dan sempurna. Lalu, kami sekeluarga dikirimkan fotonya. Ganteng dan menggemaskan. Liat fotonya saja saya sudah sayang sama anak ini. Ditambah lagi, saya saat itu sudah lama sekali mendambakan buah hati bahkan sampai ingin sekali mengadopsi (sayangnya suami belum setuju) maka bertambahlah sayang saya sama ponakan satu itu.

Berselang 2 - 3 hari saya merasa enek saat makan siang kantor. Saya malas menduga-duga meski saya sadar sudah 6 hari terlambat menstruasi. Namun, ternyata hal ini cukup mengganggu pikiran saya. Karena lusanya saya berencana ikut outing kantor suami di Jogja. Akhirnya, dg sedikit nasihat teman, di hari ketujuh, pagi-pagi sekali begitu bagun tidur saya coba tespek. Saya tespek dengan menurunkan harapan, karena sudah bosan menangis ketika harapan itu belum terwujud.

Di luar dugaan, garis satu setengah yang nampak blur dan semula saya pikir hasil akhirnya akan negatif ternyata justru terlihat jelas garis dua nya alias positif. Seketika saya memanggil suami. Suami terbangun melompat karena dia pikir ada maling.

"Abi bangunnya sampe segitunya.. Bunda ngagetin ya? Hehe maaf ya"
" Ya iya lah Bunda ngejerit gitu gimana gak loncat. Abi pikir ada maling.." 
"Bunda tespek garis dua nih, positif"
Suami senyum senyum dan kami pun berpelukan.
 

 

Saat itu, saya masih merasa bingung. Seminggu belakangan saya sering makan ayam penyet pedas. Belum lagi sempat minum soda. Apakah akan baik-baik saja? Saya merasa lebih banyak cemas ketimbang senang. 

Saya pun mengurungkan diri pergi ke kantor. Kami memutuskan pergi ke dokter kandungan kebun dulu untuk memastikan kehamilan saya dan keadaan janin dalam perut saya. 

Alhamdulillahirabbilalamiin.. Saya benar hamil dan janin dalam keadaan baik di dalam rahim. Subhanallah rasanya tidak percaya tapi juga percaya. *Eh gimana? Bingung ya? 
Saya merasa tidak percaya bahwa akbirnya saya dapat kabar yang sudah 3 tahun lebih saya nanti ini. Hamil! Tapi saya juga percaya bahwa tak ada kuasa Allah yang tak mungkin. Subhanallah.. Kasih sayang Allah seketika menyentuh dan menyadarkan saya betapa selama ini Ia mendengar dan tak pernah sekalipun jauh dari hambaNya. Kami pun sungguh bersyukur kepadaNya.

*USG 5 weeks

Konsekuensi dari kabar bahagia ini adalah kami batal okut outing ke Jogja. Memang nampak sayang dilewatkan, tapi buat kami janin dalam kandungan saya lebih teramat sayang diabaikan. Betapa kami menginginkan anak ini. Maka akan lebih baik kalau saya menghindari lelah lebih dulu.

Sebenarnya, suami bisa saja tetap berangkat outing tanpa saya, tapi katanya, dia gak akan nyaman kalau saya tidak ikut outing dan meninggalkan saya sendirian sementara dia tau saya sedang mengandung anak kami yang pertama, yang sudah sangat dinanti-dinanti ini. Suami pun tidak ingin memaksakan saya ikut. Ia juga khawatir kalau saya kelelahan. Dan dari situ saya sadar, prioritas kami berdua sudah berubah. Prioritas kami adalah anak yang tengah saya kandung. Dan ini adalah hadiah terbaik dari Allah yang paling saya nantikan selama ini.

Subhanallah.. Alhamdulillah..