Kamis, 15 Oktober 2015

# Buku

Hujan Bulan Juni



Siapa tak kenal Sapardi Djoko Darmono? Salah satu peulis besar Indonesia yang pandai merangkai kata menjadi puisi atau sajak seperti favorit saya satu ini :



Puisi di atas begitu mengena dan dalam bagi saya. Jadi, ketika saya memutuskan membeli Hujan Bulan Juni versi novelnya, ekspektasi saya pun sudah tinggi lebih dulu. Saya penasaran bagaimana Sapardi meramu sajak-sajak Hujan Bulan Juni menjadi sebuah novel.

Baru halaman pertama saya membaca, saya sudah merasa kecewa, tapi saya pikir mungkin di halaman-halaman selanjutnya lebih menarik. Sampai dengan pertengahan buku saya tidak juga mendapatkan feelnya. Tidak menggigit, tidak mengena, tidak bikin penasaran, bikin bosan dan mengantuk. Ekspektasi yang tinggi jatuh sudah.

Butuh perjuangan buat saya untuk menyelesaikan membaca buku ini yang sebenarnya pun tidak tebal dan cenderung tipis untuk ukuran novel. Saya seperti ingin bertaruh, bertaruh sesuatu. Saya bertaruh kalau novel ini ditulis oleh penulis pemula sudah barang tentu tidak lolos terbit. Dan kalau pun lolos terbit, pasti lah melalui banyak proses editing dan bukan diterbitkan oleh penerbit besar seperti Gramedia.

Dalam buku ini, terdapat salah satu bab yang hanya terdiri dari dua paragraf. Paragraf pertama hanya terdiri dari satu kalimat tetapi berkoma-koma dan berbaris-baris panjangnya. Paragraf kedua pun hanya terdiri dari satu kalimat, kali ini hanya dengan satu setengah baris saja.

Sewaktu saya mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia di bangku SLTP dan SLTA dulu, ingat sekali saat saya dan kawan-kawan sekelas diberi tahu kalau pargaraf adalah kumpulan kalimat. Bukan hanya terdiri dari satu kalimat. Dan rangkaian kata baru bisa disebut kalimat kalau sudah menemui tanda titik. Lantas, apakah karena Sapardi seorang penulis besar tata penulisan Indonesia yang baik dan benar boleh saja dilanggar? Atau guru saya lah yang sudah salah mengajari? Atau saya sendiri lah yang salah memahami?

Banyak novel yang memiliki gaya bahasa sendiri yang khas, yang dirasa mampu membawa ide cerita terjelaskan dengan baik di tangan pembaca. Namun, bagi saya pun novel ini memiliki gaya bahasa yang sama sekali tak membantu, justru membuat bosan dan ingin menyerah, tidak ingin meyelesaikannya sampai halaman terakhir.

Nampak juga usaha pak Sapardi untuk membuat cerita dalam novel tersebut seperti kekinian dengan beberapa kali menyebutkan "WA" alias WhatsApp tetapi lagi-lagi usaha kekinian tersebut bagi saya tetap gagal, karena pendetailannya masih terbatas dan cenderung bernuansa lampau.

Saya ini lancang. Seseorang yang bukan siapa-siapa sudah mengkritisi karya penulis besar Indonesia sedemikian panjang. Rasanya tidak pantas juga. Tetapi terus terang, Hujan Bulan Juni lebih indah dan enak dibaca dalam versi kumpulan sajaknya saja. Kumpulan sajak Hujan Bulan Juni lebih indah, dalam, dan mengena dibanding novelnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar