Trip to Thailand (Part I : Little Drama of Leaving Jakarta)

23.23 Amalia Fw 0 Comments


"Bunda siapin pasport ya... Kita ke Thailand" Heh??? Apa ya saya gak salah denger. Ada apa nih tiba-tiba suami ngajakin ke Thailand. "Emang kita mau jalan-jalan ya? Dalam rangka apa?"

Kadang kala respon saya emang ndusun, disuruh siapin pasport langsung girang dan kayak gak percaya gitu. Norak? Iya memang. Ya apa mau dikata, saya emang dari dusun dan belum pernah keluar negeri. Jaman single dulu, sempet beli promo tiket pesawat ke Singapore. Udah beli tiket PPnya sih, tapi batal jalan gara-gara nabung mau nikah. Setelah nikah saya sama suami juga sempet beli promo tiket pesawat lagi buat ke Kuala Lumpur. Yap, lagi-lagi batal berangkat dengan tiket yang udah di tangan gara-gara waktu itu pengen beli rumah. Tapi bukan berarti saya terus menyesali menikah dan beli rumah yang butuh biaya banyak, enggak sama sekali. Saya malah bersyukur punya suami yang kece badai dan tau rasanya gimana beli rumah. Hal ini yang justru jadi alasan dibalik kegirangan saya jalan-jalan kali ini.

Pertama, ini jalan-jalan pertama saya keluar negeri. Kedua, jalan-jalan kali ini totally free dan gak backpackeran a.k.a dengan hotel dan transportasi yang sangat nyaman. Emang ya... Allah SWT itu baik. Namanya kalo udah rejeki ya gak kemana. Udah gitu, yang ketiga, tawaran jalan-jalan ini datang di saat saya lagi jenuh-jenuhnya kerja. Jadi kalau ada yang bilang terkadang Tuhan memberikan kita sesuatu tepat pada waktunya ya..itu benar. Benar-benar tepat. That's why i was really happy. Oiya lupa, masih ada satu lagi nih yang bikin heboh, dikasih uang saku gratis loh! *loncat-loncat sembari nyari-nyari dompet suami. Hihi :D


Jadi ceritanya kantor suami itu lagi gathering. Berhubung tahun kemarin gak ada gathering dan (katanya) kalau gathering di Indonesia, macam kayak ke Bali atau Lombok lebih mahal dari ke Thailand, jadi gathering kali ini diputuskan buat jalan-jalan ke Bangkok & Pattaya, dan pegawainya dibolehkan (bahkan setengah diperintahkan) untuk ajak anak istri.


Kami diminta kumpul di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta jam sembilan pagi. Demi tepat waktu, saya dan suami sudah  sampai di bandara jam delapan. Beberapa teman kantor suami sudah berkumpul disana. Setengah sampai satu jam kemudian rombongan komplit. Berhubung saat itu waktu take off udah deket, jadi kita mutusin buat nunggu di ruang tunggu dalam gate masuk aja.

Biasanya nih kalau saya dan suami pergi keluar kota yang sekiranya akan banyak waktu senggang di jalan pasti kami atau salah satu dari kami bawa novel atau buku bacaan lainnya buat membunuh bosan. Sayangnya waktu itu kami lupa. Jadi pas saya liat ada Toko Buku Periplus, mampir lah saya buat liat-liat apa yang bisa dibeli. Tapi Ya Tuhan..Periplus disana jual bukunya mahal-mahal sekali tapi gak bisa dipungkiri sih apa yang mereka jual itu...buku-buku import bagus dan kebanyakan international bestseller. Ada dua buku yang jadi incaran saya waktu itu. Satu karangannya Murakami yang belum ada di Indonesia dengan versi bahasa Indonesia dan yang kedua karangan Tyler Knot Gregson.

Saking mahalnya buku-buku incaran saya, saya jadi galau. Bolak balik tanya suami, "Beli gak ya Bi? Kalau beli, beli yang mana? Pengennya dua-duanya, tapi satu aja mahal bange." Dan bolak balik juga, suami jawab, "terserah bunda mau beli apa gak, terserah juga mau beli yang mana." Sampe akhirnya suami kesel, "udah lah gak usah beli dua-duanya." *bibirmanyun

Saat saya mau taruh dua buku incaran yang lagi saya pegang ke rak, eh pak bos suami tiba-tiba negur,"lo jadi beli yang mana? bayarnya jadi satu ja yuk!" Saya yang udah punya niat batal beli buku pun ngeles sebisanya, "hmm..bingung mas." Saya liat mata pak bos suami ngelirik ke buku yang saya pegang, dia bilang "udah yang murakami ntar lo pinjem gue aja, gue punya yang itu. Lo beli yang satunya aja, kayaknya bagus tuh." Demi menyelamatkan image suami, saya pun menurut. Pergi ke kasir nyatuin buku pak bos suami dan buku yang mau saya beli. Dalam hati, mampus dua ratus ribu lebih li...lumayan buat oleh-oleh.  Eh rejeki gak diduga-duga datang. Pak bos suami bayarin buku saya dan seriusan gak mau diganti. Saya sampai bingung, ngeliat ke arah suami nunggu kode. Apa harus tetep maksa bayar apa mesti diem menyerah dan berkata alhamdulillah. Ternyata dari gesture suami, saya diminta berhenti memaksa. Alhamdulillah ya Allah.... *girang dapet buku import mahal bagus dengan gratis. Dan gak berhenti sampai situ. Pas saya bilang makasih, pak bos suami bilang "kalau ketemu anak-anak bilangin ya barangkali ada yang mau beli buku juga." What??? Dia mau bayarin semua gitu???? Ealah iya loh, dia beliin semua pegawainya buku gratis!

Bersyukurlah kami karena beli buku, eh lebih tepatnya dibayarin beli buku. Karena ternyata penerbangan kami delay sampai lebih dari tiga jam. Hmm...gak kebayang, kalau tadi sama sekali gak pegang buku. Ngandelin baca google book di HP akan sangat merisaukan baterai HP tentunya. Lubang colokan memang banyak disediakan di ruang tunggu tapi kalah sama banyaknya orang yang nunggu, nyolok HP pun jadi ngantri.

Sampai akhirnya pesawat kami datang, dan kami diijinkan naik. Entah kenapa saat penumpang sudah komplit di dalam pesawat, kami justru diminta kembali turun tanpa membawa bagasi dalam kabin dan menunggu di ruangan tunggu. Katanya ada kerusakan teknis. Banyak yang turun kembali dengan wajah-wajah capek dan kesal, tapi tidak dengan saya. Ya, saya capek, tapi saya tidak kesal dan sedikit pun tidak terpikir untuk komplain. Saya bersyukur Allah  membuat kru pesawat melihat ada kerusakan di saat kami belum terbang, gak kebayang kalau kerusakan itu didiamkan atau baru ketauan saat kami sudah terbang, tentunya akan sangat menyeramkan buat saya.

Kami menunggu perbaikan pesawat ada sekitar satu jam. Banyak penumpang yang mulai protes. Saya hanya berdoa semoga kami diberi keselamatan. Dan saat itu saya sangat berharap pihak maskapai bersedia mengganti penerbangan kami dengan pesawat mereka yang lainnya. Jujur saja, saya ini takut naik pesawat. Jadi meskipun pesawatnya sudah diperbaiki, tapi karena saya tahu sebelumnya ada kerusakan, saya akan sangat gusar nantinya di dalam pesawat karena terlalu membayangkan yang tidak-tidak. Dan...alhamdulillah, Allah mengabulkan harapan saya, penerbangan kami diganti dengan pesawat lainnya dengan maskapai yang sama. Tapi itu artinya, semua yang menaruh bagasi dalam kabin akan diantar lebih dulu ke pesawat sebelumnya untuk mengambil barang masing-masing dan kembali diantara ke pesawat pengganti. Di situ lah saya merasa kesal.

Menurut saya, jika ada kerusakan dalam pesawat dan penumpang diminta turun kembali untuk menunggu perbaikan pesawat jangan terburu-buru mengumumkan untuk tidak membawa bagasi dalam kabin. Karena apa???

  1. Saya tahu mereka bermaksud mengendalikan komplain dengan meminta penumpang yang sudah menunggu lebih dari tiga jam untuk masuk ke dalam pesawat. Yeah, it was look good.
  2. Saya tahu mereka bermaksud mengendalikan komplain dengan meminta penumpang yang sudah menunggu lebih dari tiga jam dan akhirnya masuk ke dalam pesawat sehingga penumpang akan berpikir, okelah sabar aja udah mau take off nih.
  3. Saya tahu mereka bermaksud mengendalikan komplain dengan meminta penumpang yang sudah menunggu lebih dari tiga jam dan akhirnya masuk ke dalam pesawat sehingga penumpang akan berpikir, okelah sabar udah mau take off nih, turun kembali tanpa membawa bagasi dalam kabin sehingga membuat penumpang kembali berpikir, oh cuma butuh waktu sebentar untuk memperbaiki, okelah kami harus bersabar lagi.

Faktanya ketiga hal itu lah yang justru membuat banyak penumpang emosi. Dan saya pun demikian. Selaku kru seharusnya mereka tau kerusakan mana yang mungkin diperbaiki dalam waktu sebentar dan mana yang tidak.  Selaku kru sebaiknya mereka tau kerusakan mana yang sampai perlu menggati pesawat dan mana yang tidak. Semestinya, saat mereka meminta kami untuk kembali turun dari pesawat tanpa membawa bagasi dalam kabin, mereka sudah harus tau benar kerusakan yang sedang mereka hadapi. Manajemen komplain justru failed disini, karena kesabaran penumpang diuji berkali-kali. Tapi atas nama kebaikan Allah yang telah memberikan kami seisi pesawat keselamatan, saya pun memutuskan untuk mencoba mengalihkan pikiran supaya gurendelan ini gak berlarut-larut dan menguasai mood saya saat itu.

Yap, setelah drama pesawat yang rusak, finally...we're landed! Helllo...Bangkok! *yawn *ngantuk *sampai bangkok jam 9 malam. Antara pengen cepet bobok atau cari makan dulu karena perut yang keroncongan.

0 komentar: