I've Been Stolen And I Realize Something!

00.34 Amalia Fw 0 Comments

Sebenarnya ini bukan yang pertama kali. Kalau diingat-ingat sudah beberapa kali saya kehilangan barang, dan selalu ponsel! Tapi kehilangan kali ini rasanya beda. Membuat saya menyadari beberapa hal.

Kebetulan baru sekitar dua atau tiga hari sebelumnya, saya beli pelindung layar, casing, dsb untuk mempercantik ponsel saya yang jarang lemot itu. Jadi ketika sadar ponsel saya sudah dicuri rasanya nelangsa sekali. 

Sore itu, sepulang dari kantor, saya menghubungi suami untuk makan malam di Mall Kalibata. Dan suami mengiyakan. Saya bilang, sembari menunggu saya berbelanja dulu di supermarket dalam mall tersebut. Suami pun mengOKEkan saja. Seolah dia sudah tau betul istrinya tidak bisa diam lama menunggu kalau sedang di dalam mall.

Saya berbelanja kebutuhan sehari-hari, terutama makanan. Saya dan suami suka sekali sosis sapi. Jadi saya cukup lama di area frozen food. Maklum, namanya ibu-ibu, mau ambil satu bungkus sosis saja, saya perlu menelusur dari ujung rak sebelah kanan sampai ujung rak sebelah kiri untuk memastikan sosis yang saya beli lebih hemat. Lebih hemat loh ya bukan lebih murah.


Saya berbelanja sambil memegang ponsel, takut-takut kalau suami menghubungi, saya tak dengar deringnya. Tapi lama-kelamaan, berbelanja sambil memegang ponsel nampaknya menyulitkan. Dan saya khawatir justru akan terjatuh ketika mengambil sesuatu. Jadi saya masukan ponsel saya itu ke dalam tas. 

Tak lama berselang, saya melihat seorang anak yang tiba-tiba terjatuh setelah berusaha berlari padahal berdirinya pun belum pandai benar. Tangisnya menyedot perhatian. Umurnya yang nampak baru sekitar satu atau dua tahun itu membuat saya iba, rasanya ingin memarahi orangtuanya yang membiarkan anaknya berlari-lari di dalam supermarket tanpa benar-benar mengawasi. Syukurlah, orang tuanya segera menjemput dan menggendong. Saya pun kembali khusyuk melihat, memperkirakan dan menghitung barisan angka pada label-label harga yang terpasang. Terserah orang mau bilang apa. Tapi yang namanya hemat itu musti. Karena saat di rumah, saya adalah Ibu negara yang merangkap jabatan sebagai menteri keuangan, sehingga harus dengan seksama memperhatikan hajat dan kesejahteraan hidup bersama. *nulisnya sembari ngikik

Capek mata lihat label harga, saya pun terpikir untuk menghubungi suami. Khawatir kalau ternyata dia sudah menghubungi saya tapi saya tak mendengar dering telpon darinya. Seketika saya terperangah dengan mulut membuka dan otak yang bingung harus berpikir apa, saat tahu tas saya sudah terbuka padahal saya ingat betul sudah menutup dan menguncinya. Saya obrak abrik isi tas dan berterima kasih masih menemukan dompet beserta isinya utuh di sana. Sayangnya, meski barang-barang dalam tas sudah saya keluarkan, saya tak juga menemukan ponsel saya. Rasanya lemas. Bukan apa-apa, karena ini baru beberapa bulan semenjak saya kehilangan ponsel saya yang sebelumnya. :(

Saya berinisitif meminta bantuan SPG di sana, bertanya apakah ada CCTV yang aktif di sekitar situ. Sayangnya si mbak SPG bilang, "tidak".  Lalu dia membantu saya melapor ke security yang sedang bertugas, dan tak lama kemudian pun saya mendekati security tersebut. Alangkah menyebalkannya ketika saya menangkap respon petugas security yang nampak acuh dan tak berempati.

Saya bertanya, "apa benar-benar tidak ada satu pun CCTV di area frozen food dan buah buahan?". Dan dia hanya menjawab, "tidak" dengan wajah datar. Tidak ada kata lain sebelum ataupun sesudahnya. Sama sekali tidak terlihat gerak gerik, body language atau mimik wajah yang membantu. Dan ya, He didn't do anything

Kalaupun kehilangan barang menjadi tanggung jawab customer, saya masih merasa seharusnya dia bisa berempati sedikit saja dan tidak bersikap seolah tak terjadi apapun. Si Mbak SPG yang saya tanyai juga tak bisa membantu, tapi paling tidak dia masih menawarkan bantuan dengan menelepon ponsel saya, siapa tahu terselip katanya. Hmmm..saya tarik nafas panjang berusaha sabar. Rasanya saya resah bukan karena kehilangan HP, tapi lebih karena sikap security yang tak nampak membatu atau sekedar berempati.

Saya pun jadi batal berbelanja. Troley belanjaan yang sudah terlanjur terisi beberapa barang saya tinggalkan dalam supermarket. Saya berjalan ke depan pintu masuk, menunggu suami di sana. Syukurlah Allah memudahkan dengan mempertemukan saya dan suami. Kalau tidak, mungkin saya akan menunggu lebih lama di sana dengan perasaan tak karuan.

Katakanlah saya ceroboh. Katakanlah saya kurang mengawasi barang-barang saya. Tapi, dari kejadian ini setidaknya saya menyadari tiga hal. Pertama, hidup di ibu kota jangan terlalu terbawa perasaan sampai-sampai tersedot perhatian ke kejadian tertentu. Rasanya tanpa sadar manusia diarahkan untuk menumpulkan hatinya saat melihat sesuatu yang mampu menyedot perhatian dan konsentrasi. Sekalipun seorang anak kecil yang terjatuh. Kedua, saya sadar mungkin saya kurang bersedekah, atau pun kalaupun bersedekah tak saya jadikan prioritas utama dan sering ditunda. Sehingga Allah pun menjadikan ponsel saya sebagai barang yang membersihkan harta karena tak mengutamakan sedekah. Dan yang terakhir adalah, kita harus selalu siap dalam segala kondisi. Mengandalkan seseorang membantu kita di kala kesulitan rasanya lebih sulit daripada kesulitan itu sendiri.

0 komentar: