Self Esteem and The Evil Cycle in My Opinion

21.19 Amalia Fw 0 Comments

Setelah beberapa minggu bahkan beberapa bulan belakangan ada aja yang bikin nunda update blog, akhirnya datang lah waktu luang dan ide untuk dicurahkan. Kali ini pembicaraan serius yang ingin saya share. *emang yang kemarin gak serius?? *ya, serius juga sih

Entah kenapa hal ini jadi seperti mengerubuti pikiran saya. Rasanya sayang kalau tidak dituangkan. Siapa tau pendapat saya bisa dijadikan perenungan untuk mencari solusi yang bermanfaat bagi semua.


Saya melihat sesuatu yang sulit dijelaskan dengan ringkas. Saya coba jabarkan hati-hati disini. Dan apa yang ditulis di sini bukan bermaksud sok tau atau menggurui, bahkan tidak bermaksud memberi tahu. Saya menulis ini dengan maksud menyampaikan opini pribadi.

Dalam beberapa bulan belakangan, kata "money oriented" sedang jadi trending topic di lingkungan sekitar saya. Dan mereka yang mendapat stempel dua kata tersebut seolah jadi seseorang dengan image negatif. Sebenarnya apa yang terjadi???

Beberapa teman mengeluh pekerjaan yang menumpuk namun merasa tidak dihargai, dan apa yang mereka dapat tidak sebanding. Jujur, saya pun pernah mengeluhkan hal yang sama. Tapi tidak untuk bagian "yang didapat tidak sebanding", kalaupun ada saatnya saya merasa seperti itu, terutama mengenai uang, tidak pernah saya kemukakan.

Gak asing dan gak salah kalau di lingkungan kerja ada yang menuntut kita bekerja prosefional, bekerja dengan seoptimal mungkin. Namun tidak jarang pula, tuntutan tersebut lupa menyoroti mengenai "sisi keuangan".

Mungkin untuk beberapa profesi, profesionalitas otomatis sebanding dengan apa yang didapat, dalam hal ini harta, khususnya uang. Sebut lah pengacara, semakin tinggi jam terbang mereka memenangkan kasus semakin tinggi pula bayarannya. Atau seorang artis, semakin sering membintangi film dan memenangkan penghargaan semakin tinggi pula bayarannya. Namun, tidak seperti itu untuk beberapa pekerjaan lainnya.

Saya lihat beberapa teman yang mengeluhkan hal yang saya sebut di atas, memang benar diserahi tanggung jawab pekerjaan yang menumpuk. Sementara di sisi lain, tanggung jawab tersebut seolah tak nampak di mata karyawan lainnya karena sifat pekerjaannya yang seakan sepele namun berdampak besar. Tetapi, ada juga teman-teman yang saya rasa load pekerjaan mereka tidak semenumpuk yang diceritakan, namun karena kurang dapat mengelola pekerjaan dengan baik jadi seperti tertumpuk, dan mereka mengeluhkan hal yang sama, merasa kurang dihargai dan uang yang didapat tidak seberapa.

Perasaan tersebut, merasa kurang dihargai dan uang yang didapat tak sebanding, untuk beberapa orang mungkin bisa jadi cambukan untuk unjuk gigi-sehingga orang lain tahu kita layak mendapatkan lebih. Namun, untuk beberapa orang pun dapat jadi cambukan yang justru menurunkan semangat bekerja dan profesionalitas.

Yang saya sayangkan, jika seseorang merasa tidak sebanding antara hak (dalam hal ini uang) dan kewajiban (dalam hal ini pekerjaan) kok ya lantas dicap "money oriented". Saya pikir yang seperti ini harus dievaluasi lebih lanjut.

Yuk liat teori self esteem-nya Maslow.



Level paling bawah self esteem versi Maslow mengatakan seseorang perlu merasa physiological needs terpenuhi untuk merasa dihargai. Dijelaskan dalam gambar, apa saja yang termasuk dalam physiological needs, antara lain yaitu food and water, makanan dan air. What's it means???

Di jaman sekarang, untuk mendapatkan makanan apa yang kita butuhkan? untuk membiayai kebutuhan air, apa yang kita butuhkan? Jawabannya adalah uang. Ketika basic needs saja mereka merasa tidak aman, bagaimana mungkin kita meminta mereka untuk tidak memikirkan uang?!

Okay, dalam agama dijelaskan Tuhan pasti akan membalas perbuatan baik sekecil apapun, jadi meskipun manusia melupakannya, Tuhan tidak akan lupa dan mengingkari, maka sabarlah. Sudut pandang ini memang benar, kita diajarkan untuk sabar dan ikhlas. Namun saya rasa, sudut pandang ini, seharusnya tidak kita sertakan saat meminta seseorang bekerja. Seharusnya, dalam hubungan sesama manusia, kita harusnya pun melunasi tanggung jawab kita terhadap seseorang, termasuk diantaranya pembayaran.

Sudut pandang tersebut barulah pantas digunakan dari sisi pekerjanya, bukan yang mempekerjakan. Jadi selaku pekerja pun, rasanya kurang tepat kalau merasa dibayar rendah atau merasa tidak mendapatkan hak sebesar tanggung jawabnya, lantas mengurangi performa pekerjaannya dengan sengaja. Toh Tuhan tidak tidur dan rejeki bisa datang dalam bentuk apapun, bukan hanya uang.

Di lain sisi, pihak yang mempekerjakan harusnya mengevaluasi juga apresiasi yang sudah dan belum mereka lakukan/berikan untuk para pekerja dengan beban tanggung jawab yang besar, apalagi jika sudah ada keluhan dan slogan macam itu (money oriented). Jangan lantas melihat hal tersebut mentah-mentah. Hal seperti ini jika dibiarkan terus menerus, saya rasa juga akan berujung pada berkurangnya kinerja kantor/perusahaan.

Dan satu hal lagi, apresiasi tidak hanya pujian atau penghargaan secara tertulis. Setiap orang menduduki self esteem level yang berbeda, sebaiknya organisasi pun mampu menyelaraskannya. Sebagian orang mungkin sudah mencapai esteem atau self actualization level, tapi ingat, masih ada sebagian lagi yang belum. Jika organisasi mampu menyelaraskannya, saya rasa akan jadi win-win solution baik untuk pekerja maupun yang mempekerjakan. Kebutuhan pekerja terpenuhi, kinerja organisasi/perusahaan maksimal dan tujuannya pun terpenuhi.

Terakhir, untuk beberapa kawan yang terus menyebarkan energi negatif karena merasa tidak dihargai & tidak mendapakan yang sebanding, padahal pekerjaannya pun sebenarnya tidak semenumpuk dan tidak seberat yang selalu diceritakan dan dikoarkan. Mohon introspeksi lah. Intinya, siapa pun (termasuk saya-ngingetin diri sendiri juga) kalau sudah merasa tidak dihargai & tidak mendapakan yang sebanding dari yang dikerjakan, yuk introspeksi diri dulu. Apakah itu karena kita yang memang gak mampu mengelola & menyelesaikan pekerjaaan dengan baik atau memang kita sudah maksimal namun keadaannya demikian?

Kalaupun, sudah merasa maksimal dan optimal dalam bekerja namun kurang diperhatikan, mengeluh satu dua kali itu manusiawi, tapi jangan terus-terusan, apalagi sampe nyebarin energi negatif dengan berbicara provokatif yang menjelek-jelekan. Please...kasihan sama mereka yang beneran kerja susah, load pekerjaan menumpuk dan tanggung jawabnya pun besar tapi memilih diam, padahal mereka pun sama-sama kurang/gak diperhatikan. Energi negatif kalian membuat organisasi/perusahaan semakin tidak bisa melihat karyawan yang benar-benar berkorban, benar-benar bekerja dengan profesionalitas & peforma tinggi. Energi negatif kalian bisa menutup mata hati organisasi/perusahaan untuk melihat dengan jelas dan memperhatikan sungguh-sungguh mereka yang sudah berkontribusi banyak pada organisasi/perusahaan. Energi negatif kalian dapat membuat semua orang 'terlihat' sama, padahal jelas berbeda, antara mana yang benar money oriented, mana karyawan teladan yang kurang diperhatikan, dan mana karyawan yang memang dalam kesulitan finansial.

Ayolah sama-sama ngebagiin yang positif-positif aja, toh siapa tau akan menjadi kebaikan yang berantai. Kebaikan berantai, ganjaran pahalanya pun berantai (berkali lipat) bukan??! :)

0 komentar: