Diantara Persimpangan

04.38 Amalia Fw 0 Comments

Sudah berhari-hari bahkan berbulan-bukan saya dalam masa dilema. Mendilemakan pekerjaan, yang buat saya bukan semata-mata soal uang.

Entah kenapa meski sudah berkali-kali saya memohon pada Tuhan agar Dia menenangkan hati saya, terus saja rasanya dirongrong perasaan gelisah dan dilema ini. Kadang saya jadi berpikir, apakah Tuhan ingin saya mengambil langkah baru, bukan melangkah di jalan yang sama. Entah lah, saya juga bingung.


Kemarin tersiar kabar bahwa uang tunjangan di kantor tempat saya bekerja akan terjadi kenaikan. Bukan seratus atau dua ratus ribu seperti biasanya, tapi beratus-beratus ribu bahkan mencapai angka satu juta. Lantas teman kantor tiba-tiba menyeletuk "masih kepikiran keluar?", tanyanya dengan ekspresi meledek, bercanda, dan menyindir yang dijadikan satu.

Ya, dulu saya sempat curhat bahwa saya ingin sekali suatu hari nanti bisa resign dan menjalani sesuatu yang saya impikan menjadi sebuah pekerjaan yang tidak hanya menafkahi saya secara materi namun juga batin. Tentu saja, pertanyaan kawan saya itu cepat saya jawab "kalau keluar mah bukan semata-mata soal uang." Dia kembali dengan nanda dan ekspresi yang sama, bertanya "yakin??" Saya pun dengan yakin campur kesal menjawab "yakin dong"

Hemmm. Ada apa dengan orang-orang? Atau, ada apa dengan saya???
Entah apa karena saya sedang dilema, atau memang orang-orang di sekitar saya saja yang sedang seakan mengerti tapi tidak mengerti akhirnya membuat kesal, yang jelas pertanyaan dia membuat saya sebal sekaligus kepikiran.

Kemarin lusa, saya sempat mengantar adik ipar mengikuti tes rekruitment cpns di salah satu kementrian di Indonesia. Saya pun kembali teringat sulitnya mencari kerja saat kita telah lulus kuliah. Terbesit tanya dalam benak saya, Ya Allah apakah keresahanku ini memang hanya karena aku saja yang tak tahu bersyukur?? Aku tak menentang jika kau takdirkan aku melangkah di jalan yang sama, aku hanya meminta tenangkan hatiku dari keresahan itu. Lantas apa yang terjadi sekarang?? Saya kembali dilema, seolah mematung dalam beberapa persimpangan jalan dan Tuhan menunggu saya memilih jalan mana yang hendak saya lewati.

Apa yang membuat saya berpikir untuk resign??
Empat tahun lebih saya bekerja di instansi ini. Suka dan duka, saya terima dan syukuri. Toh itu semua menambah pengalaman saya menangani beragam hal dan beragam tipikal manusia. Saya pun bisa mengerti apa yang dimaksud dengan bijak.

Dulu, di awal bekerja, saya memang sempat terlintas ingin resign juga, tapi kali itu hanya pikiran sesaat, dan tidak berkembang dalam hati sekuat saat ini. Dulu, saya terpikir resign karena saat itu seolah jika saya bertahan di sana selamanya saya hanya akan menjadi penjaga ruangan, tidak berkembang dan menumpul kah otak saya, lantas menjadi pegawai yang tanpa tantangan, sedikit pekerjaan, dan selamanya jadi pegawai rendahan.

Empat tahun lebih berlalu, pikiran resign itu kembali muncul dengan satu alasan yang sama. Saya sadar, empat tahun sudah saya lewati namun saya tidak jauh berkembang. Dalam hal ini yang saya soroti  sisi pekerjaan. Dan rasanya alam bawah sadar saya merasa tidak terima dengan keadaan pekerjaan saya sekarang, saya bermimpi besar--pernah, saya pernah bermimpi besar. Mimpi yang besar, seakan menanti diwujudkan. 

Apa sulitnya mewujudkan mimpi sembari bekerja dengan pekerjaan saat ini?
Sulit. Karena kalau dihitung-hitung, dalam sehari pun sebagian besar waktu terlewat di kantor. Jadi secara tidak langsung, sadar atau tidak, kehidupan di kantor membawa dampak psikologis terhadap diri saya. Kalau saya tengah merasa tak nyaman dengan kantor, maka sulit bagi saya menumbuhkan semangat kembali mekar untuk hal besar yang dalam realisasinya butuh perjuangan, dan, maka sulit bagi saya mengumpukan sisa-sisa energi untuk melakukan hal lain yang dalam realisasinya membutuhkan banyak tenaga.

Ya sudah, kenapa belum resign juga?
Saya bukan lah anak yang ditanamkan semangat berani, walaupun harus jatuh bangun. Orang tua saya hampir selalu menanamkan rasionalitas. Jadi kalau tidak rasional rasanya sulit mendapat persetujuan atau bahkan sekedar kalimat mendoakan, yang timbul seolah seperti ekspresi kekecewaan jika saya nekat melakukannya. Maksudnya begini, kalau lah saya punya cita-cita jadi seorang pelukis, dan mencari nafkah dari melukis, maka bagi orangtua saya itu tidak rasional, hanya dengan alasan pelukis sulit mendapatkan pekerjaan. 

Ya, saya sudah dewasa, bahkan sudah menikah, seharusnya saya punya hak absolut mutlak dan utuh menentukan jalan hidup. Tapi, kekhawatiran munculnya respon-respon kecewa dari orang tua, pandangan orang-orang beserta kalimat-kalimatnya ketika mungkin saya harus melewati titik bawah pencapaian mimpi--yang mana hal itu akan sangat mempengaruhi psikologis saya yang mudah down, dan realita yang dihadapi bahwa hidup ini memang butuh uang untuk bertahan hidup, membuat saya mematung. Bingung. Sedih. Gelisah. Tidak tenang. Namun ketika seolah ada lampu yang menerangi tiap sudut logika dan nurani, bahwa bekerja dalam sebuah pekerjaan akan kita jalani sampai umur menua, sampai kita tak lagi tergolong usia produktif, saya pun merasa gerah. Bagaimana mungkin harus menjalani hidup sekian tahun lamanya dengan perasaan tak nyaman seperti saat ini hanya karena pekerjaan dan tak ada keberanian untuk melangkah di jalan yang baru??? Benarkah hanya dengan alasan bersyukur kita lantas menerima hal yang dapat diramalkan hanya membawa kita menjadi orang yang begitu-begitu saja, atau mungkin menjadi orang yang terbawa kontaminasi negatifnya sifat manusia (yang bersih dan lugu tersisih)???

Ya, manusia memang hanya bisa meramal, Tuhan yang mengatur dan menentukan, tapi bukan kah Tuhan pun berkata bahwa tak akan berubah nasib suatu kaum jika ia tak berusaha merubahnya sendiri?? 

Menurut saya bersyukur pun bukan semata-mata menerima. Bersyukur lebih dari itu. Bersyukur adalah mengahayati apa yang sudah Tuhan berikan kepada kita, berterima kasih, dan wajib menjaga apa yang disyukuri menjadi sebuah berkah tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk sesama, tetapi juga untuk mendekatkan diri kepadaNya atas perasaan nyaman akan segala hal yang diberiNya dengan penuh keberkahan. Jadi kalau lantas ada seorang teman yang menasehati saya untuk bersyukur saja atas pekerjaan yang saya jalani saat ini, maka saya berani bertaruh dia memahami rasa syukur hanya sebagai suatu perasaan menerima semata.

Lantas bagaimana itu membawa berkah jika kita pun tak merasa nyaman??? Perasaan tidak nyaman, tentu lah sadar atau tidak mempengaruhi psikologis kita, seperti misalnya tiba-tiba tanpa sadar sudah banyak keluhan yang kita ucap padahal kita hanya merasa lelah, tiba-tiba tanpa sadar kita telah mengumpati orang lain padahal kita hanya merasa kesal atas kesalahan-kesalahan kecil, dan tiba-tiba tanpa sadar kita telah membicarakan sisi buruk orang kepada lainnya padahal yang kita butuhkan adalah mencari kebenaran. Bagaimana bisa hal-hal itu membawa keberkahan?? Bagaimana bisa hal-hal itu membuat kita sungguh-sungguh bersyukur???

Dan kembalilah pada point masalah, saya merasa berada dalam persimpangan. Mematung sendirian memandangi papan arah. Mencoba menerka bagaimana jalan di depan. Bingung menentukan pilihan. Kembali terpatung pada dilema kehidupan.




0 komentar: