This Is Why We Call Them "Meong" -Part I-

02.13 Amalia Fw 0 Comments

Suatu malam tiba-tiba suami minta diceritakan sebuah dongeng pengantar tidur. Saya bingung mau cerita apa. Akhirnya mengarang lah saya sebuah cerita seperti ini.

"Meong"

Pada suatu hari hidup lah seorang gadis kecil bernama Mawar. Mawar hidup seorang diri karena Ibundanya meninggal dunia ketika melahirkannya ke dunia. Ayahnya, mati diburu macan hutan saat pergi berburu hewan untuk dimakan. Mawar tinggal seorang diri, namun dia tidak pernah merasa kesepian, karena sepanjang hidupnya dia ditemani seekor kucing lucu yang dia beri nama Meong.

Mawar sayang sekali pada kucingnya itu. Dia memperlakukan Meong seperti memperlakukan saudara kandungnya sendiri, penuh kasih dan perhatian yang tulus.




Beranjak remaja, Mawar mulai penasaran dengan berbagai hal, termasuk kehidupan orang lain di luar desanya. Dia pun berencana untuk pergi merantau mencari hal baru.

Di desa tempat tinggal Mawar, hanya ada sekitar sepuluh kepala keluarga. Memang sedikit sekali. Belum lagi, desa mereka tergolong desa terpencil. Jarak antar rumah mereka bisa mencapai 10 km. Betapa jauhnya jarak yang harus ditempuh ketika memerlukan tetangga untuk sebuah bantuan.

Tekad Mawar pun semakin bulat. Hari itu dia mempersiapkan bekal makanan hasil berburu kelinci dan mencabuti daun-daun untuk dijadikannya daging matang dan sayuran. Setelah memberi makan Meong, dia pun mengutarakan maksudnya untuk merantau. Dia meminta maaf kepada Meong karena tidak bisa mengajaknya merantau hari itu, Namun dia berjanji untuk kembali pulang ke rumah esok secepat mungkin saat Mawar telah mendapatkan tempat untuk bermukim. Sebagai jaga-jaga, mawar sudah mempersiapkan banyak daging dari hasil berburu untuk dimakan Meong sekitar lima hari ke depan.

Dan pergi lah Mawar merantau. Rasa penasarannya terhadap dunia luar membuat kakinya seolah tak lelah melangkah, membuat hatinya sumringah, dan bibirnya tersenyum merekah. Walau hanya dengan berjalan kaki, dia sangat yakin bisa melihat kehidupan lain di luar desanya. alangkah bahagianya dia ketika dari kejauhan dia mulai melihat pintu gerbang desanya, "sebentar lagi aku akan melewati batas desa", gumamnya senang.

Setelah melewati batas terluar desanya, ia kembali melanjutkan langkahnya. Terus dan terus melangkah. Namun, alangkah terkejutnya dia, ketika dia menyadari bahwa jalan yang tengah ia lewati adalah jalan yang sama yang telah dilalaluinya. Dia bingung namun terus saja melangkah sampai akhirnya dia pun merasa buntu ketika kembali melihat pintu gerbang desanya. Dia seolah memutari jalan yang sama.

Otaknya lelah berpikir. Badannya lemas. Kakinya lunglai. Ia pun memutuskan kembali ke rumah dan menemui Meong.

Sesampainya di rumah. Setelah makan dan beristirahat sejenak, dia menceritakan hal yang dialaminya kepada Meong. Dengan bahasa yang hanya dimengerti oleh Mawar dan Meong, mereka bercakap. Sampai akhirnya Mawar berinisiatif untuk menceritakan tentang hal yang dialaminya kepada tetangga-tetangganya, walaupun itu berarti dia harus berjalan 10 km ke tiap-tiap rumah tetangganya.

***

Sebenarnya saya ingin menceritakan dongeng yang saya karang dengan sangat seketika itu sampai selesai. Namun, karena atasan saya tiba-tiba muncul di sebelah saya, jadi sepertinya, harus saya potong dulu cerita di atas. 

Disambung lain waktu ya...

0 komentar: